Pantas Saja Ibu Risma Menutup Lokalisasi di Surabaya

Well, tempat lokalisasi sering kali menjadi kontroversi, di sisi moral dan agama tentunya kita sangat menentang adanya lokalisasi dalam sebuah kawasan. Namun di satu sisi banyak pihak yang mendukung dengan alasan-alasan tertentu lewat kemasan logika yang membuat kita mengamini logika-logika pendukung adanya lokalisasi. Gua nggak menyebutkan “apa?” dan “siapa?” orang-orang atau kelompok tersebut. Tetapi hari ini ada satu hal yang membuat gua nggak bisa tidur, merinding, setelah melihat video curhatnya Ibu Risma di Mata Najwa, 12 Februari 2014.

Daripada nggak bisa tidur karena kepikiran, gua coba tuliskan isi dialog antara Ibu Risma dengan Najwa SIhab berikut ini:

Najwa  = Bu Risma, salah satu kebijakan anda yang kini menjadi begitu kontroversi karena banyak yang protes, dan yang protes bukan hanya mereka yang kena dampaknya langsung, tetapi orang yang melihat bahwa menutup lokalisasi itu bukan hanya menyelesaikan masalah, namun malah menambah masalah baru ibu?

Bu Risma  =  Ya awalnya saya juga berfikir gitu, jadi itu adalah awal perjalanan panjang saya, kemudian saya menetapkan hal itu.

Pada awal-awal saya menjabat walikota, saya didatangi 20 orang Kiyai. Nah kemudian saya sampaikan saat itu “Pak Kiyai, saya belum bisa memberikan makan semua orang itu.”. Kemudian mereka bilang “Bagaimana bu wali?”. Kemudian saya bilang; “Mereka kan harus memberikan makan kepada keluarganya.”.

Disitu kemudian media sempet menulis, saya masih punya dokumennya, “Gubernur Setuju Menutup Tempat Lokalisasi, Walikota Menolak”. Saya masih punya itu dokumen itu.

Kemudian dari sana itu, sekali lagi, saya mungkin mengikuti hati saya. Itu saya ditunjukan oleh Tuhan. Pertama awalnya kasus trafficking anak. Pertama satu kasus, saya telusuri, tidak mungkin sesuatu terjadi pada anak itu kalau dia tidak punya background, apa latar belakang dia? Latar belakangnya bisa dari sekolah, bisa dari pergaulan atau dari keluarga. Itu saya telusuri betul!

Nah kemudian saya cek keluarganya, kenapa awalnya, saya ketemu dia dulu “Kenapa begini-begini…?”. Kemudian saya telusuri keluarganya, kemudian saya telusuri sekolahnya, kemudian saya telusuri lingkungannya. Nah kemudian saya menemukan kasus-kasus berikutnya.

Kemudian ternyata 90% anak-anak itu punya hubungan dengan kawasan-kawasan seperti ini. Entah dia anak dari situ, orang tua disitu, entah dia pernah tinggal disitu, kemudian entah mereka masih tinggal disitu.

Nah, dari situ kemudian saya turun ke sekolah, saya ngajar mbak di sekolahan-sekolahan itu. Jadi saya punya catatan-catatan, Ooo…. anak ini punya disitu, sekolahnya disitu, saya turun ke sekolahan itu. Supaya itu tidak terpengaruh ke anak-anak yang lain.

Najwa  =  Apa yang anda temukan di sekolahan itu?

Bu Risma = Nah, dari situ saya bisa melihat awalnya, oke yang paling berat itu yang paling dekat dengan kawasan lokalisasi paling terkenal di Surabaya.

Najwa  = Dolly?

Bu Risma = Iya…. 1 jam, biasanya anak-anak itu setelah saya ajak ngomong, anak itu nangis mbak…, ngeluh…, sampai mereka mau curhat ke saya itu antri, kadang sampe 10 orang. Mereka curhat kepada saya, cerita tentang keluarganya, masalahnya, tentang apapun pergaulannya, mereka cerita ke saya.

Saya bawa Psikologi kalau ke sekolah itu minimal 5 orang. Nah kemudian anak-anak saya tampung, saya peluk, setelah itu saya kumpulkan, saya selalu minta ruangan, lalu mereka ditangani Psikolog.

Nah, ada 1 tempat yang di kawasan itu tadi. Saya satu jam itu orang kaya…. kaya kosong sama sekali anak-anak itu. Satu jam mereka tidak tersentuh omongan saya…. Dua jam saya hampir frustasi… “Ya Tuhan apa ini yang terjadi?”. Begitu saya ngomong pingsan itu satu anak “Plek”, pingsan lagi “Plek, Plek, plek-plek” pingsan, sampe 20 anak pingsan!

Sampai saya panggil dokter lah, karena pingsan saya juga takut kan….

Najwa  = *Najwa melihat miris*

Bu Risma = Saya bawa ke ruangan…. Aduh ceritanya….. Rasanya saya waktu itu sudah mau nyerah. Cerita itu, sudah selesai

Najwa  = Apa ibu ceritanya sampe Ibu Risma yang sebegini keras bisa sampe menyerah itu mendengarkan apa? *tanya Najwa merinding*

Bu Risma = *tersenyum miris* *hening*

saya tidak tega ngomongnya

*ibu resmi tersedu sambil mengusap mata*

tidak tega saya *sambil terisak*

Najwa  =  Kaitannya dengan prostitusi yang mereka dipaksa? Atau kaitannya dengan keluarga?

Bu Risma = Ya dua-duanya *sambil terisak, kemudian hening*

Najwa  = Ibu tidak pernah mendengar *langsung dipotong ibu Risma*

Bu Risma = Mereka masih SMP-SMA *sambil terisak dan menutup mata*

*Hening beberapa detik, Ibu Risma melihat keatas dengan mata terkaca-kaca*

Najwa  = Itu yang kemudian membuat ibu mengubah sikap dari semula *dipotong Ibu Risma*

Bu Risma = Ndak, ndak juga. Setelah itu saya kumpulkan….. mucikari-mucikari dan PSK dirumah saya di Bulan Puasa. Saya biasanya bulan puasa saya buka puasa di tempat warga gitu….

Tapi kali itu saya undang mereka….

Dan pada waktu pertama kali saya ketemu mereka….

Ada 1 orang sudah tua, saya juga kaget, sudah tua kok masih jadi PSK gitu, dia ngomong “Sebenarnya saya ingin berubah, tapi janji pemerintah bohong, katanya saya mau diberi ini-ini, tapi ternyata bohong semua.”; ”Baik bu, saya besok akan datang ke tempat ibu.”

Besoknya saya kesana, pagi-pagi sekali jam 7 sya datang kesana. Dia tinggal di tepi rel, rumahnya kurang lebih 2×2, dari bangunan sesek begitu…..

Terus saya tanya “ibu kenapa?”. “Ini saya punya usaha utang dari rentenir.”; “Berapa utangnya ibu? Saya akan bayar.”. Terus habis itu dia cerita lagi “Bu saya ingin ini”. “Oke saya akan bantu” *sambil mengusap air mata*

Terus sudah selesai saya ajak dia masuk ke dalam, “Saya ingin ngobrol dengan ibu sendiri”

saya masuk ke dalam kamarnya, ruangannya itu separo untuk jualan, jadi 2×2 itu separonya untuk dia tidur.

Saya tanya ke dia “Ibu maaf ya bu kalau ibu tersinggung, saya juga ingin tahu, saya mohon maaf sekali kalau ibu tersinggung, dan mohon maaf sekali kalau saya salah.”…..

Nah terus saya tanya disitu “Bu…. ibu sekian tahun, ibu umur berapa jadi PSK?”

Dia sampaikan 19 tahun……..

“Ibu sekian tahun jadi PSK, kenapa ibu nggak bisa nabung? Kenapa saat ibu sudah selesai”, itu ibu itu kurang lebih usianya 60 tahun

Najwa  = 60 tahun masih jadi PSK itu? Usia 60 tahun *kaget*

Bu Risma = Iya *menjawab miris*

Kemudian dia sampaikan bahwa dia selama ini uang yang dia pakai habis untuk beli baju, habis untuk beli make up… kemudian yaa… seperti itu….. Hingga sehingga dia tua dia tidak punya anak.

Kemudian saya tanya lagi itu “Bu, mohon maaf ya, sekali lagi saya mohon maaf kalau saya salah…. ibu sudah sepuh begini…. terus siapa pelanggannya?” *kemudian hening*

Itu kemudian yang membuat saya tergerak, mungkin itu Tuhan yang membukakan saya begitu….

Najwa  = Siapa bu pelanggan PSK berusia 60 tahun?

Bu Risma = Anak SD, SMP

Najwa  = Anak SD? *najwa kaget*

Bu Risma = Karena dia punya uangnya seribu, duaribu dia terima uangnya

Najwa  =  Pelanggan PSK anak SD ibu? Itu yang ibu dapatkan? *Tanya Najwa heran, shock*

Bu Risma = *hening lama banget* *ibu Risma speechless*

Najwa  = Apa yang kemudian……. *speechless juga* ibu lakukan setelah ibu mendengar pengakuan itu?

Bu Risma = Ya saya kumpulkan kepala dinas, saya pamit ke keluarga saya….

Kalau saya mati…… menangani ini, tolong di ikhlaskan…….. tidak boleh ada keluarga saya nuntut atas kematian saya

*langsung commercial break tanpa ending dari najwa, sepertinya langsung di cut sama directornya*

Ini video lengkapnya :


Mungkin ini adalah tamparan keras buat kita semua, yang selama ini hanya diam, hanya membaca, hanya berkomentar, hanya berdebat tanpa melihat kondisi lapangan dan terjun ke dalamnya. Mari kita bertanya kepada akal sehat kita yang masih berfungsi melihat kenyataan yang terjadi. Apa iya masih mau mendukung tempat lokalisasi?

Terima kasih ibu Risma yang telah membuka mata kami dan memberikan contoh arti kepemimpinan yang sebenarnya.

Untuk transkrip Ibu Risma di Mata Najwa selanjutnya bisa dilihat disini

Advertisements

207 thoughts on “Pantas Saja Ibu Risma Menutup Lokalisasi di Surabaya

  1. mkstories4life

    Sama mirisnya.. Br mo share jg ttg ini dblog.. Sbg ibu, sy pribadi jd mrs tangisan bu Risma sprti tangisan ibu pertiwi yg mlai khawatir dgn kndisi gnrasi pnrs Indonesia..

    Slm kenal

    Reply
    1. mutiara

      benar hidup emang sulit tp masih banyak cara untuk mencari rizki, menjadi PSK hanya akan merusak bangsa dan diri sendiri

      Reply
  2. mkstories4life

    Miris ya.. Sy pribadi jg nangis ntnnya, ktk bu Risma crta ttg itu..rasanya sprti tangisan ibu pertiwi yg sdg sedih mengkhawatirkan kndisi generasi penerus bangsa ini.. Maaf agk lebay..

    Salam kenal

    Reply
  3. Rizki Edmi Edison

    Mas Ridwan, saya kurang paham dengan tulisan di blog ini, karena nyaris seluruh tulisan di atas hanyalah transkrip percakapan antara Bu Riswa dan Mbak Najwa.
    Menurut Mas Ridwan, apa penyebab Bu Risma menutup lokalisasi itu? Apakah karena pelanggan yang datang ke sana adalah anak-anak di bawah umur? Ataukah karena PSK di sana adalah wanita usia lanjut? Atau adakah hal lainnya?

    Reply
    1. diana

      hehehe mas rizki,, kalau saya boleh comment sebelum mas ridwan menjawab.. setelah membaca tulisan diatas saya mengambil kesimpulan: ternyata pembiaran lokalisasi yang terang ada dan megah malah di surabaya..,, membuka mata si Ibu walikota.. bahwa berdampak terhadap psikologis, akhlak dan perilaku anak-anak bangsa,, anak-anak usia sekolah menjadi sangat lekat dan dekat dengan kegiatan prostitusi,, kalau yang perempuan bisa dijual pada umur muda sedangkan yang laki-laki bahkan pada umur yang masih sangat belia SD katanya sudah mengenal seks dan menjadi pelanggan PSK yang berusia 60 tahun.. selain itu dampak psikologis anak2 juga buruk dimana ketika si ibu walikota menyediakan waktu untuk tempat curhat waah banyak yang curhat, akhirnya beliau menghadirkan psikolog untuk anak2 tersebut.. jad kalau dibiarkan MAU JADI APA PENERUS BANGSA INI…..? begitu mungkin…

      Reply
    2. kiekie

      Daripada nggak bisa tidur karena kepikiran, gua coba tuliskan isi dialog antara Ibu Risma dengan Najwa SIhab berikut ini:

      ( itu loh di awal sudah ditulis…..Mas Ridwan hanya mau transcip percakapan di mata najwa lewat blog nya )

      Reply
    3. Audi

      mas Rizki Edmi Edison,
      menurut saya alasan bu Risma tersurat di seluruh kutipan teks dialog di atas, dimana keinginan untuk menutup lokalisasi tadi muncul sejak adanya kekhawatiran terkait kasus trafficking yang setelah ditelurusi, sekitar 90% berhubungan dengan kawasan lokalisasi tadi. Bisa dibilang keberadaan lokalisasi ini (apalagi dengan status legal) menjadi alasan bagi timbulnya berbagai dampak buruk terhadap masyarakat Surabaya.
      lebih baik lagi kalau mas coba tonton langsung videonya, menyentuh sekali lo

      Reply
    4. anemone

      Kalo boleh saya menjawab 🙂
      Karena tidak ada orang (wanita) di dunia ini yang berniat untuk bekerja disana, mereka yang bekerja di sana karena terpaksa… mereka menderita dan mereka butuh bantuan kita bukan begitu?
      Terlepas dari alasan agama, alasan tata kota, alasan etika, dan alasan formal lain. Bu Risma ingin menutup lokalisasi itu karena masalah hatinya yang tergerak melihat saudara dan rakyatnya menderita

      Reply
    5. Andre

      Tadinya Bu Risma belum mau menutup lokalisasi masih berpikir panjang bahwa siapa yang akan memberi makan (pekerjaan) dari ratusan PSK yang juga menghidupi keluarga mereka. Belum lagi stakeholder lokalisasi seperti pemilik wisma, warung-warung, tukang parkir, pegawai-pegawai rumah bordil dan semua orang yang mencari makan dari keberadaan lokalisasi. Tidak segampang membalikkan tangan.
      Nah setelah kejadian pertama disekolah-sekolah yang sebagian muridnya juga berprofesi sebagai PSK, Ibu Risma masih belum juga memutuskan untuk menutup lokalisasi.
      Nah setelah kejadian kedua (nenek PSK dengan pelanggan anak-anak SD) baru Bu Risma langsung memutuskan menutup lokalisasi.
      Beliau berpesan dan berpamitan pada keluarganya bahwa keputusan berat itu akan mendapat perlawanan berat dari orang-orang yang mengambil keuntungan dari lokalisasi. Mungkin saja dia dibunuh atau disantet oleh preman-preman dan tukan becak disitu atau pejabat-pejabat yang jadi backing atau bahkan punya usaha wisma bordil.
      Salut Bu Risma, pemimpin terbaik yang pernah kita temui di era jahiliyah ini.

      Reply
    6. Abdul Muluk

      Mas, menjadi psk tidak pernah membuat si pelaku bisa semakin sejahtera hidupnya. Si nenek itu sampai umur 60 tahun dia tetap menjadi psk dan sampai dipenghujung hayatnya dia masih tinggal di gubuk 2x2m. Jd tidak pernah ada kebaikan atau peningkatan kesejahteraan untuk para psk tersebut walaupun mereka sudah tinggal di lokalisasi. Terus argumen apalagi yg valid untuk mendukung keberadaan lokalisasi?

      Reply
  4. yuksyuks

    Saya setuju penutupan dolly kalau oleh bu risma. Diganti sama taman saja bu.
    Seperti kowloon di bonkar terus jadi taman. Ga papa, awalnya pasti ada korban, tapi nanti orang2 bisa adaptasi kok

    Reply
    1. Nicholas

      Tidak segampang apa yg anda pikirkan kalo mau di ubah seperti kawloon (hongkong). Menurut anda tidak apa apa ada korban?? Memangnya anda tau korban seperti apa?? Apa anda tidak membaca cerita di atas??

      Reply
    1. irenewibisana

      Walah keliatan ga ngikutin berita ini. Ahok nyeplos gtu itu kan ‘dalam rangka’ menyindir mereka pejabat2 yg mesum2 yg sok komen ga jelas ttg lokalisasi. Makanya ahok blg dg berbau “konotasi” gtu. Alias sindiran.

      Reply
    2. Hage

      Pemecahan sebuah masalah bukan hanya dengan satu jalan, seperti mengempeskan benjol kepentok, orang Indonesia mengempeskan dengan benda hangat, sementara orang Barat, menggunakan es. Demikian juga masalah lokalisasi atau pembongkaran, masalah yang ada dapat dipecahkan dengan cara yang tepat sepanjang masalahnya telah diketahui secara detail seperti yg ditelusuri oleh ibu Risma. Yang penting pemerintah melakukan pembinaan yang menyeluruh dan tuntas, menjauhkan anak-2 dari contoh buruk, memberi ketrampilan dan peluang usaha/kerja bagi pelaku. Pembubaran tiba tiba juga kurang bijak, menyelamatkan sepihak merusak sepihak. Lokalisasi dimaksudkan adalah tempat ajang pembinaan, pembina (pemerintah/ngo/rohaniawan) berpacu dengan pelaku. Ayou bu Risma, jangan berhenti, hentikan korban berikutnya dengan tanpa mengorbankan pihak lain yang belum siap. Gusur gubuk-2 kumuh, tapi sediakan dulu Rusunawa dan sejenisnya. Pejabat dengan hati seperti ibu Risma sangat diperlukan bangsa ini, cuma sedikit lebih taktis menuntaskannya. Jangan mengedepankan emosi saja bu………

      Reply
    3. Jontor

      Goblok loe otak rasis sih jadi yg nyangkut yg jelek2 aja ga tau berita teriak paling tau kaya gini nih yg merugikan orng lain

      Reply
  5. meirita

    Ya Allah,ampunilah kami.tunjukilah pemimpin2 kami…bahwa semua masalah ada penyelesaiannya dalam islam,agama yg sempurna dg aturan yang Engkau tuangkan dalam firmanMu :Alqur’an yg Engkau wanti2 berisi petunjuk utk seluruh manusia(hudallinnas),baik kristen,budha,hindu,konghucu,yahudi,kafirin,terlebih lagi muslim.tapi ya Allah kami manusia selalu melenceng dr petunjukmu,memakai logika manusia yg terbatas dlm menangani prostitusi;lokalisasilah…dsb.akibatnya bukan menyelesaikan maslah…tp menambah rumitnya mslh,shg penyelesaiannya makin kompleks dan butuh waktu,tenaga dan dana yg lebih banyak.padahal jk diikuti sj aturan Engkau dlm menagani zina..(Jangan engkau DEKATI zina…,rajamlah org yg berzina …dll) . Niscaya permasalahan zina ini makin kecil dan td merembet ke anak SD,SMP dllnya.

    Reply
  6. M Maksum

    Bravo bu risma mudah mudahan alloh menunjukkan langkah terbaik buat ibu Dan bangsa kita yang sedang sakit ini,kita butuh pemimpin yang berani menegakkan kebenaran

    Reply
  7. nisa

    saya tinggal di sekitar kampung biasa di sby, dan kadang melihat anak-anak kecil itu dibiarkan begitu saja sama orang tuanya, mereka kadang bicara kotor, melakukan tindakan yang kurang adab, dsb. miris.

    memang problem anak-anak kecil dan pergaulan yang tidak jelas itu bisa jadi masalah sosial yang besar jika tidak ditangani. bener-bener siapapun yang jadi orang tua harus mengawasi anak-anaknya, jangan sampai jadi korban traficking, pelacuran, penculikan…

    Reply
  8. marya

    ngenes bgt pas kmrn nonton mata najwa. sampe speechless bner2
    ya ampun tuh anak SD apa gak inget sm simbahnya sendiri yah…

    Reply
  9. Farah

    Lokalisasi memang perlu tp harus dibarengi dengan hukum yang ketat dan benar. Pemilik lokalisasi harus dihukum mati kalau pelanggannya anak sd dong namanya merusak moral. Dengan tidak adanya lokalisasi akan makin marak perkosaan apalagi di kota besar seperti jakarta. Anda kira lokalisasi underground tidak akan merebak? Sudah saatnya pemerintah buka mata dan menetapkan hukum yang jelas. Mulai dengan hilangkan peredaran film indonesia bokep di bioskop2 kecil daerah2 atau kota kecil. Yg jaga bioskop jg kasih anak sd bayar buat nonton bokep bagaimana moralnya ga rusak? Itu namanya didukung pemerintah untuk belajar memperkosa atau sex bebas.

    Reply
    1. Hanif Ridwan Post author

      Menurut saya tidak perlu, karena prostitusi pastinya akan terus berkembang jika dilegalkan, semakin banyak kasus trafficking untuk menambah supply sesuai dengan perkembangan demand. Rasanya tidak ada perempuan manapun yang bercita-cita menjadi PSK?

      Reply
  10. Muttia Mutmainah Chaerudin Samid

    Alhamdulillah Semoga segalanya selesai dengan baik. Semua sudah ada yang mengatur manusia hanya menjalankan sesuai kehendakNYA, wallohu’alam. MIRIS SEKALI

    Reply
  11. romi

    Alasan paling klasik kalo PSK ditanya kenapa mau jadi PSK, jawabannya karena mau makan… Oh please deh.. berapa banyak gelandangan di negeri ini dan berapa banyak orang ngk bisa makan.. tapi yang jadi psk hanya beberapa gelintir aja.. selebihnya survive dengan cara lain..
    So… kenapa ngk menjadi pemulung?, kenapa ngk ngemis?, kenapa ngk jadi tukang cuci? dan banyak lagi pekerjaan yang bisa dijadikan buat makan. Kalo ada yang memilih menjadi PSK sedangkan mereka punya kebebasan untuk memilih, berarti perempuan itu benar-benar PSK sejati.
    Lain hal jika mereka memang diculik dan di kurung disuatu tempat untuk dijadikan PSK. ini tugas polisi mengungkap dan menyelematkan orang-orang ini.
    Jadi tidak ada satupun alasan yang membenarkan adanya lokalisasi di negeri ini, kecuali alasan yang dikeluarkan dari mulut para pezina yang takut tempat mereka berbuat zina musnah..
    Perkara mereka (PSK ) ngk bisa makan setelah lokalisasi ditutup, itu hanya kekhawatiran dari sebuah alasan yang dibuat-buat oleh para pezina..sebab manusia hidup dibekali insting bertahan agar selalu tetap hidup.(ini sudah kodrat)
    Bagaimana jika para PSK mati kelaparan ketika mereka terpaksa tidak lagi melacur dan tidak dapat uang untuk makan, Maka mati lah si PSK dalam kemuliaan, dan terkutuklah para tetangganya, teman-teman dekatnya, orang yang mengenalnya, dan seluruh para manusia yang menyadari kemampuan untuk memberi mereka makan, namun hanya diam!

    Reply
    1. Muhammad Fahreza

      “Bagaimana jika para PSK mati kelaparan ketika mereka terpaksa tidak lagi melacur dan tidak dapat uang untuk makan, Maka mati lah si PSK dalam kemuliaan, dan terkutuklah para tetangganya, teman-teman dekatnya, orang yang mengenalnya, dan seluruh para manusia yang menyadari kemampuan untuk memberi mereka makan, namun hanya diam!”

      Pendapat yang hebat, saya sangat setuju

      Reply
      1. nunu

        saya menanggapi apa yg di paparkan mas romi knp ada orang yg memilih jadi PSK yg haram sedangkan bs memilih pekerjaan lain yang halal? sy rasa kembali kepada keimanan setiap orang tp tentu saja itu tidak lepas dr pengaruh lingkungan selain orang tua dan teman mas, menurut saya moral anak2 penerus bangsa ini bergantung juga pada pola konsumtif berlebihan, lingkungan pendidikan, dan hiburan yg bs berpengaruh sangat buruk…
        Contoh kecil konsumtif negara kita mengenai penggunaan HP yg menurut survey (anda bs googling sendiri) indonesia termasuk pengguna smartphone terbanyak dibandingkan dgn negara asal smartphonenya…ini bukan karena penduduk indonya yg banyak tp pola pikir banyak masyarakat indonesia bahwa HP saat ini bukan cuma utk kebutuhan tp keinginan semata akhirnya gengsi klo tdk punya HP mahal (pdahal tidak butuh)…
        Ditambah dgn sistem pendidikan yg sebagian besar hanya mengandalkan pendekatan materi semata bukan pendidikan moral sehingga tolak ukur kualitas seseorang dianggap sempit(nilai jelek=bodoh, nilai bagus=pintar)..akhirnya banyak yg moralnya sangat kurang (bukti nyata banyak pejabat2 kita pintar tapi “bodoh”) dan yang bodoh tambah “bodoh”
        Dari segi hiburan pertelevisian saat ini bisa kita hitung jari untuk tontonan yg benar-benar mendidik…kesenian yang seharusnya bermakna positif jadi ladang uang semata ( dari musik hingga film2)…munculah acra2 hiburan dan sinetron yg tdk mendidik secara berlebihan …akhirnya masyarakat korbanya dapat kualitas hiburan yg tdk bermutu.
        Secara tdk langsung menimbulkan pola fikir yg buruk seperti ya para PSK itu… sudah keadaan keluarga susah…tdk bisa menentukan mana yg jadi kebutuhan utama…tidak ada contoh baik di lingkungan..,menurut saya ada kesalahan juga pd para pemimpin bangsa kita karna mnurut sy negara kita belum pantas sebenarnya utk jadi negara demokrasi..tp karna sudah terlanjur… caranya cuma satu harus pemotongan generasi pemimpin, klo kata pak habibi selain kualitas “pilih para pemimpin minimal yg berumur 40-60 tahun” contohnya seperti pak jokowi, pak ahok, bu risma, pak ridwan kamil,..karna umur itu yg paling memungkinkan blm bnyak tercemar dr generasi pendahulu yg bnyak korup…mudah2an minimal kita bisa ambil pelajaran dan lebih bisa memilih pemimpin2 kita dengan lebih cermat lagi kedepanya…mudah2an bermanfaat

    2. Candra Wiguna

      Anda benar, tidak semua orang menjadi WPS (Wanita Pekerja Seksual) karena kemiskinan, alasan utama sebenarnya adalah gaya hidup, ingin hidup berkecukupan dengan cara yang mudah. Tapi sebaliknya, justru karena alasan ini lah maka penutupan lokalisasi bisa menjadi sumber permasalahan baru.

      Bu Risma dan para Kyai yang punya pendapat demikian mengira bahwa mereka telah cukup menyelesaikan masalah prostitusi dengan melakukan penutupan lokalisasi dan memberikan pelatihan keterampilan dan pekerjaan pada para WPS, padahal kenyataannya tidak semua dari mereka melacur karena miskin, tidak semua memilih melacur karena tidak punya keterampilan, sehingga sekalipun mereka diberi keterampilan dan pekerjaan baru, mereka tetap saja bisa balik lagi memilih pekerjaan lama mereka yang mudah menghasilkan uang.

      Ketika mereka ingin balik menjadi WPS sedang lokalisasi sudah ditutup, disanalah mereka mulai membuka kantong pristitusi baru secara tersembunyi, yang sulit dipantau, yang menyebar sampai ke pelosok, sehingga dampak negatif prostitusi sulit ditekan, penyebarannya menjadi luas. Itulah alasan kenapa menutup lokalisasi dikatakan justru menambah masalah.

      Reply
    3. mega

      ‘maka matilah si PSK dalam kemuliaan, dan terkutuklah para tetangganya, teman-teman dekatnya, orang yang mengenalnya, dan seluruh para manusia yang menyadari kemampuan untuk memberi mereka makan, namun hanya diam!’
      saya setuju bangetttt sama kalimat ini, semoga ada yg bisa menyampaikan kalimat ini kpd para PSK2 itu, stidak,y dpt mmberi keyakinan pd mrka utk berhenti dr pekerjaan tsb

      Reply
  12. no name

    g berkah itu tempat karena hal yang maksiat..semaksimal mungkin tuhan memberikan cobaan ke pada umat nya disitulah umat manusia yang sesungguhnya yang bisa berdiri tegak dan tersenyum bisa menghadapi cobaan bukan untuk hal maksiat..jika berbuat maksiat berarti belum jadi manusia

    Reply
    1. Candra Wiguna

      Tiap orang punya pandangan tentang tuhan, ajaran tuhan, dan konsep keberkahan yang berbeda, jika diskusi tentang lokalisasi sebaiknya bicara tentang efek nyata saja, bukan melihat dari sisi kepercayaan.

      Anda memandang lokalisasi tidak berkah, saya memandang bahwa perang, menghancurkan diskotek dan warung makan yang dilakukan ormas agama lebih tidak berkah lagi, dan bicara soal cobaan, Aceh yang katanya anti lokalisasi sudah 2 kali terkena tsunami.. 🙂

      Maaf saya mengatakan ini, semoga jadi pelajaran untuk anda bahwa membawa konsep agama dalam diskusi publik bukanlah hal yang cerdas.

      Reply
      1. nunu

        memang benar mas membawa konsep agama dalam diskusi publik sy akui tidak sepenuhnya benar…tapi tidak juga salah kok, knp? karna harus lihat juga latar belakang negeri kita ini toh kita negara yg beragama,… apapun itu agama kita sy rasa semua agama mengajarkan kebaikan dan sy rasa setiap agama ada aturan untuk larangan hal melakukan prostitusi meskipun mungkin tdk secara langsung dijelaskan… makanya harus ada juga unsur ajaran tuhan disini untuk menjadi pegangan masing2…jadi harus imbang dari segi teori agama maupun diluar itu… hanya saja jangan terkesan menceramahi supaya pesanya sampai

      2. Candra Wiguna

        @Joni
        Seandainya norma agama bisa menyelesaikan masalah tentunya negara yang menganut teokrasi adalah negara yang paling aman dan sejahtera, faktanya tidak demikian.
        Bangun, buka mata, mulailah menerima kenyataan.

        @Nunu
        Tidak semua agama mengajarkan kebaikan, tidak semua ajaran dalam sebuah agama memiliki nilai-nilai yang sesuai dengan logika, sains, dan humanisme. Mengatakan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan adalah pernyataan utopis yang biasa disampaikan penganut pluralisme konservatif, kenyataan tidak demikian, ada yang namanya Satanisme yang mengajarkan pembunuhan, dalam Hindu pernah ada aliran Bhairawa yang mengajarkan untuk bertukar pasangan seks secara bebas, dalam Islam masih ada ajaran perbudakan seksual, yang tentu saja ajaran-ajaran itu tidak pantas lagi kita terapkan dalam kehidupan modern.

      3. Arie

        Tiap orang punya pandangan tentang tuhan, ajaran tuhan, dan konsep keberkahan yang berbeda ?

        Dasar Ngawur : Konsep keberkahan itu asalnya dari agama, mas. He he . Bukan tiap orang.
        Buka buku and belajar kembali, deh.

      4. Waras

        Dengan menggunakan referensi agama, logika kita akan dikawal agar tdk melenceng dan menjerumuskan. Jd masalah prostitusi ini hrs kita lihat dr kaidah agama. Betapa besar akibat yg ditimbulkan dr prostitusi, maka pantaslah Tuhan menyuruh kita agar tdk mendekatinya apalagi melakukannya. Memang jelas bersalah para pelacur, tp org yg melihat dan tdk mau mengentaskan mereka akan dimintai pertanggung jawaban. Jadi kalau ditinjau dr agama manapun prostitusi itu dilarang, ya dengan tegas dan aksi nyata hrs dihentikan. Jk setelah itu tdk dilakukan pemulihannya (sosial, ekonomi, religius) para prostitusi, maka yg melakukan prostitusi tdk hanya pelacur saja melainkan jg yg membiarkannya.

      5. Arie

        Anda memandang lokalisasi tidak berkah, saya memandang bahwa perang, menghancurkan diskotek dan warung makan yang dilakukan ormas agama lebih tidak berkah lagi, dan bicara soal cobaan, Aceh yang katanya anti lokalisasi sudah 2 kali terkena tsunami

        He he .. Konsep Berkah dari mana ? Saenak udel saja bikin definisi berkah.

        Maaf saya mengatakan ini, semoga jadi pelajaran untuk anda bahwa membawa konsep agama dalam diskusi publik bukanlah hal yang cerdas.

        Ajiib .. Maksud loe ? Agama yang mana dulu, cing . Kalo agama ente kali iya . Karena menyebabkan kekacauan logika seperti cara berpikir ente.

      6. Candra Wiguna

        @Arie
        Anda lupa, bahwa agama sebenarnya berasal dari manusia.
        Oops, atau jangan2 anda masih mengira bahwa Tuhan adalah pengarang agama ya? 😀
        Jangan menyuruh orang lain belajar sedang anda jarang pernah membaca.

        @Waras
        Agama itu kebanyakan ajarannya tidak logis, jadi lucu kalau mengatakan logika anda dikawal agama. Mau mengawal logika dengan cerita nabi terbang ke luar angkasa tanpa tabung oksigen? Mau mengawal logika dengan cerita kusta adalah penyakit yang timbul karena hubungan seks saat menstruasi?
        Karena agama seringkali menawarkan solusi yang tidak logis lah mana saya mengajak untuk meninggalkan sudut pandang agama dalam menilai sebuah masalah.

        Istitilah prostitusi bisa kompleks, tidak hanya sekadar pelacur, budak seks pun bisa masuk kategori prostitusi ketika budak seks tersebut diperjualbelikan, dan faktanya ada agama yang memperbolehkan praktek perbudakan seks. Anti prostitusi tapi budak seks dibilang boleh, ini kan lucu, standarnya sudah tidak jelas, makanya saya sebut tidak pantas digunakan sebagai acuan.

      7. Lãdìésñýã Üñît Wøèlú

        @Arya eh salah Candra Wiguna: demiiii tuhaaaan anda lebaiii… !!!
        sebenar’a andalah orang yg tidak cerdas dengan mengaitkan bencana alam tsunami dgn agama! negara & belahan bumi mana yg tidak pernah terkena bencana alam?? d mana logika & penelitian yg anda agung2kan itu?? apakah anda tidak mengetahui penyebab aceh & sebagian besar wilayah sumatra sering terkena bencana alam menurut hukum geografis’a?? dasar keturunan binatang homo sapien yg berlagak cerdas/intelek anda!!

  13. guekiller

    Berat ya, dibuat area khusus dan tarif mahal pun gak jaminan. Pasti ada aja kasus-kasus harga miring dan mental “yang penting gue bayar” dari penggunanya terlepas berapapun usia dan kelayakan menggunakan jasa di situ… 😦

    Reply
  14. Adi Sugiarso

    Saya sebagai warga Surabaya dan mungkin komentator yg tinggal di Surabaya…kita kawal ibu walikota kita ini agar tdk diganggu oleh kelompok2 yg berkepentingan utk diri mereka sendiri.Terus Terang Surabaya sekarang ini lebih nyaman setelah dipimpin bu Risma

    Reply
  15. Fendy

    Mau ditutup / buka, tempat prostitusi bukan akarnya.
    Ada permintaan selalu diimbangi penawaran. Jika penawaran di hambat (ditutup tmpt prostitusi) artinya proposal penawaran akan berganti wujud. Dan TIDAK akan pernah habis.
    Saya tidak menyalahkan hati yang tergerak karena kejadian anak sd tsb, namun hendaknya gunakan akal sehat 90% dan sisanya perasaan, jangan di tukar.
    Menutup/memulangkan psk bukan solusi, hanya menunda munculnya pemain baru.
    Akan semakin banyak tempat pijat, salon plus, karaoke, dan lainnya.
    Ibu Risma, anda tidak memberi solusi penuntasan psk di Surabaya. Anda HANYA menaikan kelas harga mereka saja.
    Jika anda serius memberantas praktek seks komersial, berikan hukuman untuk pembelinya bukan penjualnya.
    Be Realistic…

    Reply
    1. ion

      kayaknya anda deh yang kudu realistic. lokalisasi (oleh karenanya berijin) itu bukan sebuah kejahata. pembelinya pun tidak bisa disebut melakukan tindak pidana. lalu dengan dasar apa kita akan menghukum pembeli yang membeli sesuatu yang sudah mendapatkan ijin untuk dijual? menutup lokalisasipun juga tidak bisa sekenanya, selain faktor hukum juga faktor ekonomi dan sosial masyarakat sekitar. oleh karenanya, yang paling realistis dilakukan adalah memberikan alternatif lain bagi psk yang ada untuk mencari sumber nafkah selain jadi psk. dengan demikian, jika kesempatan itu dibuka seluas-luasnya, maka dengan sendirinya psk-psk dilokalisasi (yg berijin) itu akan berkurang. jika demikian lambat laun ini kan habis, dan itu sudah sukses dilakukan di 4 lokalisasi lain disurabaya selain dolly.
      jika pada akhirnya lokalisasi2 (yg berijin) itu tutup, bisa jadi memang akan muncul dalam bentuk lain, misalkan ke hotel2. dan betul seperti kata anda, mereka ini bisa dikatakan naik kelas. tapi jangan lupa, yang seperti ini tidak berijin, oleh karenanya praktek yang seprti ini bisa dipidanakan. kalo lokalisasi tidak bisa dipidanakan, karena berijin.
      jadi ini bicara tentang sistem pemberantasa atau tahap-tahap pemberantasan. dah yang dihitung tentunya komperhensif, tidak hanya pendekatan pembeli dan penjual saja. saya nilai langkah yang dilakukan bu risma sudah realistis, terbukti sudah sukses di 4 lokalisasi lainnya. justru yang tidak realistis itu adalah saran anda itu

      Reply
    2. X

      Culun kau. Sok sok gaya pengen keren dengan mengeluarkan komentar yang anti-mainstream ka? Kau urus status kau di pesbuk sana. LOL

      Reply
  16. doel

    subhanallah,,, begitu pelik dan butuh keteugasan untuk menyeuleuseikan masalah inii. mungkin karakter seseorang bisa terbentuk karna keubiasaan dan pengaruh yg tidak ada pilihan kecuali ikut pengaruh dan kebiasaan tersebut,,, ya allah perlihatkanlah padakami ke beunaran dan berikanlah kemudahan untuk mengikuti nya dan perlihatkanlah pada kami keburukan dan berikanlah keumudahan untuk meujauhinyaaa…
    adakah hukum yg paling ampuh yg bisa tegak di indonesia tercinta? kadang hidup harus butuh pengorbanan jika seorang terkena penyakit tumor maka solusi pengobatannya lewat oprasi untuk mengeksekusi tumor tersebut walau dia(tumor) itu bagian dari tubuh nya. tida lain demi untuk kesehatannya. ataukah keumatiannya bila tumor itu di biarkan.
    kadang harus mengorbankan sebagian untuk kemaslahatan sebahagian yang lebih peunting..

    Reply
  17. ARTA

    Protusi terjadi akibat kemiskinan, kemiskinan akibat korupsi dan para kaum kapitalis yg merusak tatanan aturan, RIsma adalah orang baik disekililing penjahat, dan orang2 yang cuma merasa bersih. Tetapi dalam rekaman ibu ini melihat korupsi dan intrik politik begitu keras dan luar biasa. Sehingga ia merasa, ia malu menjadi pemimpin yang bingung merasa tidak mampu melepaskan belenggu dasyat dari orang-orang yg penuh korupsi. Terlalu banyak keinginan-keinginan yg mendesak untuk ini dan itu, tetapi ia menilai lebih dari itu. Ia melihat secara visioner bahwa menyelesaikan masalah harus membenarkannya dari akar masalahnya, yaitu kemiskinan. Sehingga ia sangat ingin membuat masyarakat Surabaya sejahtera, sehingga masalah-masalah lainnya dapat diselesaikan.

    Reply
  18. bonek cinta damai

    Yang dikwatirkan bu Risma adalah dengan adanya lingkungan lokalisasi mempengahi psikologi anak2 disekitar dan dapat menjadikan pikiran menjadi psk tu sbg solusi..coba bayangkan hal anda hidup brd di tengah2 penjudi,,judi akan menjadi hal yang biasa,, anda ditengah pemabuk,mabuk akan menjadi biasa,, anak2 yang mulai kecil hidup dalam lingkungan sprti itu akan terbangun pikiran hal tersbut adalah biasa..Maksud bu Risma adalah ingin menutup lokalisasi adl ingin memberikan kesempatan bagi psk maupun warga bahwa banyak hal lain yg bs dilakukan untuk sukses..klo soal pelanggan..setiap org pny hawa nafsu,,perbuatan ada karena niat dan kesempatan..klo niat ada lokalisasi g da bs pikir bkali2 buat brtindak..dan jika lokalisasi ttp ada, prostitusi bukannya berkurang justru merembet..liat aja di peta lokalisasi surabaya,,ada brp lokalisasi dibsekitar dolly??dan yang sembunyi2 di daerah lain d sby ttp aja.. coba aja datang ditengah2 lokalisasi (jangan jajan tapi) bayangkan kalau anda punya anak di lingkungan tersebut..naudzubillamindzalik.. bbrapa psk adalah pelajar,,dan itu juga dpt membrrikan pengaruh buruk bagi teman2nya.. apapun yang gak setuju sma bu Risma,,paling tidak bu Risma melakukan upaya dan membuka pikiran kita…save Risma..untuk Fendy anda hanya orang yang hanya koment..tidak melihat realita..bu risma 100% bertindak anda cuma cangkem..liat aja di sby lokalisasi ada tapi diluar ttp banyak prostitusi trselubung..anda yang tidak realistic

    Reply
  19. swhp

    Sebuah sisi yang selama ini tidak pernah kita sangka, kalau bukan karena orang-orang baik seperti ibu risma kita tidak akan pernah sadar bahwa disekitar kita banyak sekali orang-orang yang membutuhkan bantuan kita. Namun kita terlalu awal menjudge seseorang sehingga kita tidak mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang yang selama ini kita anggap tidak bener justru memiliki beban masalah yang tidak bisa ditanggung seorang diri, dan semoga bu risam sanggup membenahi kota surabaya dan menular kepada pemimpin-pemimpin yang lainnya agar membuat Indonesia semakin baik lagi

    Reply
  20. asa

    saya yang tinggal didaerah kawasan industri juga miris meliht lingkungan saya, ada blok2 yg jadi tempat lokalisasi, khususnya yg dkt dengan pangkalan truk, bahkan ada yg dkt sekali dengan komplek perumahan kelas menengah ke atas, beberapa kali saya melihat mobil instansi tertentu yg berada di sana, entah untuk keperluan apa, saya berpikir apakah menjamurnya lokalisasi karena sudah “dibekingi” oleh aparat itu?, ataukah mereka pelanggan?

    Reply
  21. oke suga

    msalah prostiusi n perjudian memang tidak mudah unk mencarikan solusi yg pas,krn disitu berbagai kepentingan serta campur tangan semua pihak mulai preman ,sindikat,bahkan oknum aparat. Niat tulus n serius seorang ibu risma harus didukung semua pihak ,bukan dukungan yg asal bunyi tp dukungan yg murni dari lubuk hati demi kebaikan masa depan generasi muda pemegang estafet kepemimpinan Bangsa . Sebagai orang yg lahir dan dibesarkan di kota surabaya saya paham n kenal betul perilaku sindikat narkoba,prostitusi dan perjudian….mereka bisa tumbuh subur dikota metropolis ini dikarenakan masih ada oknum aparat yang mendukungnya walaupun ini sulit dibuktikan tp itu memang benar benar ada..banyak tempat hiburan malam,panti pijat plus,karaoke,salon plus yg apabila mau di rasia oleh aparat pemilik tempat plus plus itu tahu lebih dulu dan mereka bisa siap siap melakukan kegiatan yg normal pdhl kesehariannya mereka biasa melakukan kegiatan mesum..Jadi penutupan Dolly dan tempat2 prostitusi lainnya jng sampai seperti teory balon yg apbl ditekan disisi kiri dia menggelembung disisi kanan.. Bila tempat prostitusi legal sdh ditutup gerakan selanjutnya adl mengawasi dan mengontrol tempat2 yg dicurigai sebagai tempat2 prostitusi terselubung seperti panti pijat plus, salon plus,dsb……Smoga apa yg dilakukan bu Risma merupakan niat positip yg bisa membuat kurangnya prostitusi di surabaya dan penerusnya bisa konsisten meneruskan program ini hingga surabaya betul betul aman dan terbebas dari julukan sorganya prostitusi.

    Reply
  22. sumarni wariman

    yang terpenting bagaimana mencarikan solusi bagi penghuni lokalisasi setelah lokalisasi itu di tutup. jika lokalisasi ditutup tapi tidak mencarikan solusi bagi penghuninya maka akan membuat masalah semakin rumit…….

    Reply
  23. Candra Wiguna

    Yang pernah terjun ke lapangan bukan hanya Bu Risma, ada yang sudah terjun ke lapangan bertahun- tahun jauh sebelum Bu Risma menjabat sebagai walikota, melakukan penelitian secara mendalam dan sesuai kaidah keilmiahan, melakukan perbandingan ke berbagai tempat sampai ke luar negeri, memadukan ilmu psikologi, sosiologi, kesehatan, dll untuk mendapat kesimpulan yang tepat.

    Kita tidak perlu berdebat tentang apa dampak negatif lokalisasi yang sekarang ini ada di Indonesia, sama halnya kita tidak perlu berdebat tentang bahaya tumor yang ada di kaki seorang manusia.

    Yang perlu diperdebatkan adalah:
    “Apa benar menutup lokalisasi adalah solusi yang tepat?”
    “Apa benar memutilasi kaki yang sudah kena tomor itu adalah solusi yang tepat?”
    Dan itu yang tidak dibahas oleh Bu Risma dalam Mata Nadjwa, termasuk oleh anda dan orang-orang awam yang berkomentar disini.

    Ada banyak solusi untuk mengatasi permasalahan lokalisasi model sekarang, misalnya dengan melakukan remodeling dimana lokalisasi tetap dibiarkan namun dalam pengawasan pemerintah, misalnya pengawasan sehingga anak-anak tidak bisa mengakses lokalisasi (satu masalah terselesaikan), menempatkan lokalisasi jauh dari pemukiman penduduk sehingga dampai negatif terhadap lingkungan sosialnya menjadi minim (dua masalah terselesaikan), dll, atau konsep lain misalnya dengan menghukum pada pengakses WPS dan lokalisasi (maksudnya para pria hidung belang) seperti di negara Skandinavia.

    Nah, karena ada banyak solusi, maka sepantasnya solusi itu yang dibandingkan. Dicari solusi yang terbaik dengan meminimalisir efek sampingnya.

    Menutup lokalisasi itu efek sampingnya banyak lho, seperti semakin sulitnya tenaga kesehatan dalam melakukan pemantauan dan menekan penyebaran penyakit seksual, WPS menjadi menyebar dan masuk ke desa-desa sehingga dampak negatifnya bisa justru semakin luas.

    Reply
  24. Candra Wiguna

    Yang pernah terjun ke lapangan bukan hanya Bu Risma, ada yang sudah terjun ke lapangan bertahun- tahun jauh sebelum Bu Risma menjabat sebagai walikota, melakukan penelitian secara mendalam dan sesuai kaidah keilmiahan, melakukan perbandingan ke berbagai tempat sampai ke luar negeri, memadukan ilmu psikologi, sosiologi, kesehatan, dll untuk mendapat kesimpulan yang tepat.

    Kita tidak perlu berdebat tentang apa dampak negatif lokalisasi yang sekarang ini ada di Indonesia, sama halnya kita tidak perlu berdebat tentang bahaya tumor yang ada di kaki seorang manusia.

    Yang perlu diperdebatkan adalah:
    “Apa benar menutup lokalisasi adalah solusi yang tepat?”
    “Apa benar memutilasi kaki yang sudah kena tomor itu adalah solusi yang tepat?”
    Dan itu yang tidak dibahas oleh Bu Risma dalam Mata Nadjwa, termasuk oleh anda dan orang-orang awam yang berkomentar disini.

    Ada banyak solusi untuk mengatasi permasalahan lokalisasi model sekarang, misalnya dengan melakukan remodeling dimana lokalisasi tetap dibiarkan namun dalam pengawasan pemerintah, misalnya pengawasan sehingga anak-anak tidak bisa mengakses lokalisasi (satu masalah terselesaikan), menempatkan lokalisasi jauh dari pemukiman penduduk sehingga dampai negatif terhadap lingkungan sosialnya menjadi minim (dua masalah terselesaikan), dll, atau konsep lain misalnya dengan menghukum pada pengakses WPS dan lokalisasi (maksudnya para pria hidung belang) seperti di negara Skandinavia.

    Nah, karena ada banyak solusi, maka sepantasnya solusi itu yang dibandingkan. Dicari solusi yang terbaik dengan meminimalisir efek sampingnya. Asal anda tahu, menutup lokalisasi itu efek sampingnya banyak lho, seperti semakin sulitnya tenaga kesehatan dalam melakukan pemantauan dan menekan penyebaran penyakit seksual, WPS menjadi menyebar dan masuk ke desa-desa sehingga dampak negatifnya bisa justru semakin luas.

    Reply
    1. Hanif Ridwan Post author

      Pernyataan seperti itu yang selalu menjadi kambing hitam dari penutupan lokalisasi…. nggak heran kok…. Pemikiran Ibu Risma sudah diluar konteks pengawasan, kesehatan, dll. Tapi bagaimana menyelematkan masa depan bangsa mas

      Reply
      1. Candra Wiguna

        Apanya yang diselamatkan kalau nanti prostitusi justru semakin liar dan tidak bisa dikendalikan?? Apanya yang selamat kalau infeksi HIV semakin menyebar dan tingkat pelecehan seksual semakin tinggi??
        Emangnya yang mau menyelamatkan masa depan bangsa cuma Bu Risma??

        Menyelamatkan juga musti pakai konsep, pakai landasan teori.
        Konsep penyelamatan itu ada banyak, dan itu yang seharusnya dibicarakan dan dibandingkan.

        Mengambil kesimpulan bahwa menutup lokalisasi adalah sebuah solusi yang tepat hanya karena berhasil menunjukkan masalah dan dampak negatif yang terjadi akibat lokalisasi, sebenarnya adalah sebuah bentuk kesesatan logika. Sama sesatnya dengan mengambil kesimpulan bahwa menggunduli kepala adalah solusi paling tepat hanya karena berhasil menjelaskan masalah dan dampak negatif dari rambut kusam dan ubanan.

    2. Arie

      Wong sok tau. Mana penelitiannya ? siapa yang meneliti ? udah baca belum ? Kalau ditutup gak menyelesaikan masalah, kalau dibiarkan buka apa menyelesaikan masalah ?

      Reply
      1. Candra Wiguna

        Penelitian tentang kawasan prostitusi ada banyak, anda bisa googling sendiri kok, yang jelas yang namanya penelitian ilmiah itu mengikuti kaidah-kaidah ilmiah sehingga lebih layak untuk dipercaya, dan dari sana anda akan menemukan berbagai tawaran solusi, dan seharusnya solusi itu yang dibahas, kelebihan dan kekurangannya, bukan hanya membahas dampak negatif dari model prostitusi sekarang yang kebanyakan orang sudah paham.

    3. Arie

      Yang perlu diperdebatkan adalah:

      “Apa benar menutup lokalisasi adalah solusi yang tepat?” ( sok ilmiah )

      Memangnya kalau dibiarkan / dilegalkan adalah solusi tepat ?

      “Apa benar memutilasi kaki yang sudah kena tomor itu adalah solusi yang tepat?” ( sok ilmiah )

      Kalau tidak dimutilasi apakah juga solusi tepat ?

      Dan itu yang tidak dibahas oleh Bu Risma dalam Mata Nadjwa, termasuk oleh anda dan orang-orang awam yang berkomentar disini. ( Jumawa )

      Anda siapa ? Bukan Awam ya. darimana taunya kalau yang disini awam semua ? he he

      Reply
      1. Arie

        “Menyelamatkan juga musti pakai konsep, pakai landasan teori.”
        Konsep penyelamatan itu ada banyak, dan itu yang seharusnya dibicarakan dan dibandingkan ( ini lagi )

        Konsep penyelamatan ? yang mana itu ? bisa dijelaskan ? Apa beda konsep dengan metode ?
        Terus konsep penyelamatan yang anda maksud itu apa ?

        Landasan teori ? Teori siapa ? Apakah ada contoh landasan teori tersebut berjalan baik saat diterapkan ?

        Mas ganteng dan sesat logika, Apakah menutup lokalisasi itu anda pikir gak makai konsep ?

        Apakah mas ganteng dan sok pinter ini pernah belajar metode pemecahan masalah.?

        Jelaskan dong ke kami konsep sampeyan dan apa jaminannya konsep anda lebih baik daripada menutup tempat lokalisasi.?

        .

      2. Candra Wiguna

        Bukan sok ilmiah, tapi mengajak untuk berdiskusi dengan cara yang lebih baik, yang logis, rasional, dan dengan referensi terpercaya.

        Kutip:
        Memangnya kalau dibiarkan / dilegalkan adalah solusi tepat ?
        Kalau tidak dimutilasi apakah juga solusi tepat ?

        Nah bagus anda bertanya, seharusnya pertanyaan itu yang diajukan sejak awal.
        Yang saya maksud orang awam adalah orang yang tidak pernah terjun ke lokalisasi, tidak pernah mempelajari tentang prostitusi, dampak negatif dan bagaimana upaya penanggulangannya, karena saya kebetulan pernah ke lokalisasi untuk melakukan proyek penelitian bersama teman-teman saya, mempelajari dan membandingkan solusinya maka menurut saya saya bukan orang awam. 🙂
        Kalau saya bisa mudah membedakannya, mereka yang pernah terjun setidaknya memilih menggunakan istilah WPS daripada PSK atau pelacur.

        Kutip:
        “Apa beda konsep dengan metode ?”

        Buka kamus aja ya, udah gede lho, masak perlu diajarin. 🙂

        Kutip:
        “Terus konsep penyelamatan yang anda maksud itu apa?”
        “Jelaskan dong ke kami konsep sampeyan dan apa jaminannya konsep anda lebih baik daripada menutup tempat lokalisasi.?”

        Baca lagi komentar saya sebelumnya. Baca pake mata, bukan pake emosi.
        (ciri khas orang emosi saat berdiskusi adalah tidak teliti membaca)

        Sebelumnya saya memberi 2 contoh bagaimana upaya meminimalisir dampak negatif dari prostitusi, yang pertama adalah melegalisir lokalisasi namun dalam pengawasan pemerintah dan jauh dari pemukiman penduduk, yang kedua adalah mengkriminalisasi prostitusi dengan hanya memberikan sanksi pada konsumen prostitusi tersebut (pria hidung belang) bukan para WPSnya.

        Dan saya tidak mengakatakan, apalagi menjamin bahwa konsep2 itu lebih baik, tapi saya mengatakan bahwa ketika membahas tentang penutupan prostitusi, maka bahasannya bukan lagi tentang dampak negatif prostitusi tapi tentang perbandingan antar konsep tersebut. Entah mana yang lebih baik tentu nanti bisa dilihat di akhir diskusi.

        Kutip:
        “Mas ganteng dan sesat logika, Apakah menutup lokalisasi itu anda pikir gak makai konsep?”

        Ya make konsep, makanya dibandingkan. Anda ngerti yang saya tulis gak sih??
        Anda terlalu banyak menampilkan strawman fallacy.

        Maaf, itu saja balasan saya, saya tidak punya cukup waktu memantau tulisan di blog ini yang komentarnya bejibun da ditampilkan dalam satu halaman penuh. Kalau anda mau lanjut silahkan diskusi di facebook, hubungi saya di :http://facebook.com/candrawgn

        Tentunya saya berharap anda tidak menggunakan akun anonim, sehingga saya tahu latar belakang anda, dan agar komentarnya lebih bisa dipertanggungjawabkan. 🙂

    4. Hanif Ridwan Post author

      Iya, besok kalau bisa, buat rumahmu jadi sarang prostitusi yang legal, terapkan teori-teorimu di sarang yang kau sebut prostitusi sehat dan berlogika berdasarkan penelitian. Lalu kau buat aturan bagaimana agar pelangganmu tidak ada pelanggan baru, dan kamu cari sendiri PSK yang benar-benar karena ingin jadi PSK, Dan jangan mencari PSK baru untuk regenerasi menggantikan PSK yang sudah tua kecuali anak-anak atau istrimu sendiri mas.

      Mas, masalah prostitusi itu bisa diberangus, percaya deh, toh PSK juga manusia, pasti memiliki hati nurani dan tahu apa yang mereka lakukan adalah salah, jika ada orang sakit tolonglah, bantu agar sembuh, bukan dibiarkan atau diberi fasilitas agar mereka menikmati penyakitnya hignga akhir hayat tanpa mereka sadari.

      C’mon, memangnya PSK nggak bisa diajak tobat? nggak bisa diajak jadi orang bener? Anggapan tempat prostitusi tidak mungkin diberangus itu sama saja menganggap PSK seperti binatang yang tidak bisa diajak berbicara, belajar dan tidak memiliki hati nurani. Ingat semua orang memiliki latar belakang, dan latar belakang itulah yang membuat seseorang menjadi seperti apa dia hari ini. Kita bukan robot yang dari lahir sudah di program dari awal.

      Reply
      1. Candra Wiguna

        Hehe, komentar anda seperti komentar orang frustasi, ini sama seperti ada kasus mahasiswa yang memprotes kebijakan pemerintah lalu si pemerintah ngomong pada mahasiswa:
        “Kalo elo pinter kenapa ga elo aja yang jadi presiden?”

        Atau ketika seorang suporter kecewa kenapa para pemain timnas malah memilih pacaran ketimbang latihan sehingga Indonesia kalah, di pemain sepakbola balah bilang:
        “Elo aja klo gitu yang latihan main bole, klo udah pinter, gantiin gw jadi pamin, oke?”

        Sungguh itu bukanlah komentar yang cerdas, dan nampak bahwa anda tidak punya bahan untuk mengcounter lawan diskusi anda, baik secara logika maupun menurut referensi. Saya mencoba mengajak untuk memikirkan kembali solusi pembubaran lokalisasi, eh jawaban gitu, memalukan sekali, terlebih anda sebagai pengelola blog ini.

        Saya kasi tau, prostitusi itu adalah salah satu bisnis paling tua, sama tuanya dengan peradaban manusia. Jangankan manusia, binatang pun melakukan prostitusi kok, artinya sebelum manusia berevolusi menjadi homo sapiens pun leluhur kita sudah melakukannya, dan masih ada hingga, belum ada yang bisa mengatasinya, bahkan orang yang anda sebut sebagai nabi pun gagal melakukannya.

        Kalau anda mengerti hukum ekonomi, anda tidak akan mudah mengatakan hal itu.
        Transaksi itu ada ketika ada permintaan dan penawaran. Dalam hal seks, permintaan itu akan selalu ada selama seks itu menimbulkan kenikmatan, dan penawaran akan selalu ada selama wanita itu masih memiliki tubuh untuk ditawarkan. Jadi solusi menghabisi secara tuntas prostitusi cuma 2, menghilangkan nafsu seks para pria, atau dengan membunuh semua wanita.

        Dan 2 paragraf terakhir itu yang paling lucu, ajak mereka bicara??
        Seandainya semua maling bisa diajak bicara, seandainya semua para koruptor biasa diajak bicara, seandainya semua murid bandel bisa jadi baik dengan diajak bicara, wah alangkah damainya dunia ini..

        Bangun bung, buka mata, realistis sedikit jadi orang, jangan utopis melulu.
        Faktanya, teman2 saya di sini (di Bali) menemukan beberapa WPS baru yang aktif sejak setahun yang lalu, yang usut punya usut ternyata mereka adalah mereka yang sebelumnya ada di lokalisasi di Surabaya. Nah, itu yang terdampar di Bali, gimana dengan yang lain??
        Padahal Bu Risma beserta para Kyai udah pada ngasi ceramah lho sama mereka, udah ngasi keterampilan dan tawaran kerjaan, toh masih melacur juga. Itu fakta, bukan delusi naif bahwa semua orang bakalan sadar jadi orang baik.

        Jangan jauh2 deh, lihat diri anda, sudah saya ajak bicara baik2 dan berdiskusi dengan logika dan referensi anda masih ngeyelan, ga punya bahan tapi masih ngotot, padahal anda berpendidikan tinggi, apalagi para WPS pendidikannya rendah dan tumbuh dalam lingkungan seperti itu. 😀

      2. Lãdìésñýã Üñît Wøèlú

        @Candra Wiguna: haaahhh….. binatang melakukan prostitusi ??? sungguh sangat ilmiah sekali mas keturunan homo sapien satu ini! trus bagaimana dgn rantai evolusi yg terputus hingga menjadi manusia skarang ini, sudah ketemu belum keturunan mas yg hilang itu ?? heheee… jangan d jwb kalo belum ketemu ya mas, saya turut prihatin deh 😦

        jangan samakan binatang dengan manusia mas, itu nama’a mas yg gk ilmiah! emang binatang ada alat pembayaran apa?? mengenal sistem ekonomi ?? hingga ada yg namanya prostitusi jga ?? hehee…. lucu sekali!

  25. heru

    dulu, 10 tahun lalu. temen sebayaku yang merantau ke surabaya bercerita persis yang diceritakan Bu Risma, saat itu tak pikir dia hanya ngarang. ternyata cerita itu terus berulang sampai saat ini.

    Reply
  26. risma

    Merindingggggg miriiiisssss tragiiiissss semua dikembalikan kepada kepribadian diri masing2.. Dan.. Semoga bu risma selalu mendapat kekuatan untuk apa Ỳª♌g sedang ia perjuangkan.. Saya rasa para pemimpin negri ini harus diseret keacara hipnotis supaya masyarakat tau siapa Ỳª♌g sungguh2 menjadi pemimpin dn siapa Ỳª♌g cuma mencari keuntungan pribadi..

    Reply
  27. Andrew

    Yang namanya prostitusi melibatkan anak sd, smp kek! bayi kek! jompo kek! HARUS DITUTUP!
    Masalah ekonomi itu harus tanggungjawab antara ulama & umaro. Ulama punya sumber zakat & umaro/pemerintah punya sumber pajak serta pendapatan daerah.

    Reply
  28. andriyan

    ya sudah berarti ini menunjukkan kalo lokalisasi bukan merupakan solusi yg tepat untuk menangani masalah seks bebas dan prostitusi di suatu daerah. Karena ternyata dgn adanya lokalisasi ini malah seperti menghalalkan seks dan akhirnya mengajarkan yg tidak baik kepada masyarakat apalagi anak di bawah umur. Bu risma ini perlu dukungan dari semua pihak (pemerintaah, akademisi, masyarakat, dll). just my opinion.

    Reply
  29. hanoman smile...

    Bersyukur sekali saya dapat membaca transkrip di atas. Mungkin yg perlu diusulkan ke metrotv, untuk bikin wawancara eksklusif dengan bu risma, live, tapi tayang tengah malam :D.
    Dan yg anehnya, kalau ternyata di d***y seperti itu, kemana aja ya walikota surabaya sebelumnya?

    Reply
  30. ima

    yg jelas yg mendukung lokalisasi dan perzinahan apapun alasannya… itu org yg tidak ber Agama… alias atheis.. Agama apapun melarangnya,…. Indonesia bukan negara atheis, silahkan pindah ke luar negeri klo mau ke lokalisasi.. jgn kotori Indonesia..

    Reply
  31. Rinaldi

    Nilai-nilai di masyarakat kita cenderung mengarahkan opini bahwa orang/wanita jadi PSK itu karena semata-mata “kepepet ekonomi”. Padahal dalam level-level atas, jadi PSK itu ya profesi yang menjanjikan, terlepas dari status hukumnya bagaimana. Misalnya ada PSK yang sekali main tarifnya 50 juta, itu jelas bukan PSK yang jadi PSK karena “kepepet ekonomi”.
    Kalo kita mau ngangkat wacana tentang prostitusi, pertama-tama mesti dijelaskan dulu prostitusi yang bagaimana yang mau diomongin.
    Kalo yang kelas bawah, ada faktor kepepet ekonomi di situ. Lha kalo yang kelas atas? Tentu gak bisa pake argumen “mereka jadi PSK karena kepepet ekonomi”. Malah boleh jadi penghasilan PSK kelas atas itu lebih besar dari rata-rata penghasilan kita-kita.
    Yang jelas, adanya prostitusi adalah fenomena sosiologis yang semestinya ya dikaji, dianalisis dan dicari solusinya dalam kerangka ilmu sosial, bukan agama.

    Reply
  32. Simpet Soge

    Jgn ditutup, lokalisasinya yg dibenerin…… dipisahkan dari hunian dan jangkauan umum, ini kok letaknya di dalam kota. Cerita di atas lumayan basi untuk yg sering baca buku2 teori ‘penyimpangan sosial’…..

    Reply
    1. Radityo

      Bener saya juga sependapat dengan anda, Bu Risma nutup bukan karena soal urusan haram, tapi karena dia lebih miris melihat generasi muda yaitu anak2 usia dibawah umur juga ikut masuk kedalam lingkaran bisnis prostitusi di surabaya.

      Menurut saya lokasi prostitusi yang telrletak di tengah masyarakat itulah yang menjadikan masalah, harusnya lokalisasi itu ada ditempat yang jauh dari tempat tinggal masyarakat agar tidak “mencemari” para generasi muda. Mungkin dulu daerah itu sepi, tapi sekarang dengan seiring perkembangan zaman, lokasi dari lokalisasi itu menjadi tidak cocok lagi.

      Reply
  33. Hendra

    Brader & Sister….cuma saran nih….daripada mengkhawatirkan kondisi lingkungan yang ada sebelum kita, ada baiknya kita mendisiplinkan diri dan menjaga orang terdekat kita, bagi yang blom menikah ya jaga orang tua kita dan saudara kandung kita; bagi yang sudah menikah, jagalah istri/suami kita; bagi yang sudah menikah dan menjadi orang tua, berilah contoh yang sepatutnya kepada anak-anak kita…..karena tidak ada gunanya mengomentari keadaan, lingkungan dan orang lain, sedangkan kita sendiri tidak bisa menjadi contoh bagi keluarga dan anak-anak kita sendiri….apakah pernah mendengar bahwa unit terkecil dari sebuah masyarakat adalah keluarga….jadi kalo setiap keluarga di lingkungan tempat tinggal masing-masing baik, otomatis akan tercipta lingkungan yang baik, dari lingkungan yang baik akan tercipta wilayah yang baik dan seterusnya…..Cukup ironis apabila ada orang yang selalu berpikir untuk merubah dunia tapi tidak pernah sedetik pun orang tersebut untuk merubah dirinya sendiri….tentu saja apa yang dilakukan oleh Bu Risma harus didukung keras, tapi bentuk dukungan yang seperti apa yang bisa kita berikan, apakah mau ikut menjadi massa yang berdiri di belakang bu risma tapi membuat keluarga sendiri terbengkalai? atau mau mulai merubah diri dan menjadi contoh bagi keluarga dan berharap anak dan cucu kita dapat hidup dalam lingkungan yang layak….dengan menjaga keluarga kita tidak sampe terjerumus dalam lingkaran kelam saja sudah merupakan sumbangsih dalam memberi dukungan kepada Bu Risma….cukup sekian…semoga bermanfaat…

    Reply
    1. pritikiew

      permisi,anda itu komentator bayaran atau emang komentator yg lg puber ya?
      komen berkali kali tapi dengan nama yg beda…

      Reply
  34. widyanurachmawati

    Efek penutupan lokalisasi tidak seberapa beratnya dibandingkan dampak pembiaran lokalisasi itu ttp beroperasi. pada akhirnya, memang ada yg harus mengambil tindakan tegas dan berani utk memutus mata rantai ini. Pemerintah setempat memang akan repot di awal, perlu usaha dan kerja keras utk memberdayakan org2 eks-lokalisasi. Tp, ini adalah langkah positif yg harus didukung oleh smua pihak, agar diikuti dan mjd contoh bagi yg lain. Membenahi mmg tdk smudah membalik telapak tangan, tp tetap saja harus dmulai. Bu Risma sudah mengawali, mudah2an yg lain jg bertekad utk mensupport perbaikan ini. Amanah pemimpin tdk sekedar diberikan oleh masyarakat krn ia terpilih lewat pilkada, tp Alloh jg telah memilihnya utk memikul amanah ini. Smoga Alloh menguatkan Bu Risma dan smua pendukungnya. Amin.

    Reply
  35. sri wilujeng

    Lokalisasi adalah legalitas prostitusi. Alasan apapun itu adalah zina. Sudah jelas ditegaskan di al Qur’an. Mungkin pemberatasannya bisa disebut jihad. Salut buat bu risma. Saya nonton di mata najwa kemarin. Buat bu risma tolong jangan mundur. Kami butuh pemimpin2 spt ibu.

    Reply
  36. iazkusuma

    Semua berawal dari hati nurani… sebuah perubahan zaman telah berpengaruh besar khususnya di Indonesia ini, mulai dari diri sendiri… perbanyak kebajikan dan hal-hal yg positif itu mungkin dapat mempengaruhi generasi-generasi yang akan datang.
    salam dari J4Ui blog.

    Reply
  37. Mardyansah

    Kalau sekarang ” Perbudakan ” sudah menjadi Sejarah
    sudah waktunya kita masuk ke zaman dimana ” Pelacuran ” sudah menjadi Sejarah..!!!
    Hapus “Pelacuran” dari muka bumi ini,
    seperti yang pernah dilakukan Presiden AS Abraham Lincoln yang menghentikan Budaya Ribuan Tahun ” Perbudakan “.
    Dukung Bu Risma,… Sebarkan Semangatnya..!!!

    Reply
  38. dht

    Pak Sutiyoso dulu sukses menutup kramat tunggak, kalo bisa sich sharing ama beliau biar nggak sendirian bu, maaf saya hanya bisa Bantu dengan doa

    Reply
  39. Khrisna

    Sumpah gak bisa berkata” lagi setelah baca transkipnya , cuman bisa nangis , dan rasanya pengen ikut terjun langsung ke lapangan , ikut bantu , dan ikut turun tangan t_t

    Reply
  40. Golda

    Sebelumnya izin share ya gan…. nih info yag wajib diketahui seluruh Indonesia. Biar kita nggak lagi apatis sama keadaan kita. Apalagi buat golongan mahasiswa yang nggak punya TV dan internet lemot jadi ga bisa streaming -_-

    Reply
  41. noerillyyin

    Kurangny pendidikan agama kepada masyarakat membuat mereka tertipu dan takut dengan keadaan di dunia ni,sehingga menjerumuskan mereka kedalam kebinasaan.,smoga Allah memberikan mereka hidayah dan menerima taubat mereka.,

    Reply
    1. pritikiew

      permisi,anda itu komentator bayaran atau emang
      komentator yg lg puber ya?
      komen berkali kali tapi dengan nama yg beda…

      Reply
  42. Penerjemah Jerman

    Masalahnya di setiap lokalisasi, di mana pun itu, pasti para PSK itu mengalami perlakuan yang tidak adil, karena status mereka sebagai budak bukan pegawai biasa… baik para mucikari ataupun pelanggan sebagai pihak yang berduit merasa berhak untuk melakukan kekerasan kepada para pekerja seks tersebut. Selain itu, mereka juga kerap dibayar lebih rendah dari yang seharusnya. Lihat saja, kalau pekerjaan itu memang menguntungkan kok diusia 60 masih kerja -____- #sedih.

    Reply
  43. panji

    Bu risma bkn hanya mnjdi lawan para pihak yg mencari keuntungan..tapi juga pihak asing yg ingin negara kita ttp rusak bermoral rendah..

    Reply
  44. dehallusinate

    orang seperti ini sangat diperlukan di Indonesia, ga cuman satu, tapi ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan… Kalau cuman sendiri udah pasti habis… Tapi dengan muncul satu seperti ini, semoga menggugah para pemuda-pemudi yang ada di Indonesia ini.. saatnya merubah Indonesia menjadi lebih baik…

    Reply
  45. dinda

    KALO ALASAN EKONOMI ITU BUKAN ALASAN MENURUT SAYA, PSK ITU MAU GITU KARENA EMANG DARI PSIKOLOGINYA GAK PUNYA LANDASAN AGAMA N MORAL, MAU NYA PENGEN DAPAT DUIT CEPET N ENAK, JADI SUDAH JELAS GAK ADA AGAMA YANG BENAR SELAIN ISLAM, YANG MENGAJARKAN KEBENARAN SAMPAI KE AKAR-AKARNYA, LIAT AJA NEGARA LAIN YANG MAYORITAS NON MUSLIM, BANYAK FREESEX NYA, OTOMATIS JUGA BANYAK PSK NYA, NEGARA INI HARUS DI ROMBAK BESAR-BESARAN SOAL HUKUM, DAN TATANAN PEMERINTAHNYA.

    Reply
  46. andy

    1. Ibarat menebang pohon besar, akan lbh baik dimulai dari ranting dan dahannya. Jika kita beruntung, maka pohon akan mati sebelum dijebol akarnya.

    Reply
    1. andy

      2. Jika lokalisasi itu resmi, aturan ditegakkan, ditingkatkan dengan tujuan meminimalisir jumlah psk sekaligus pelanggan: a) syarat psk yg boleh bekerja, usia, pendidikan, latar belakang, dll melalui interview, dan yg tdk memenuhi syarat ditolak., b) aturan untuk tamu jg jelas, usia, pekerjaan, ninggal identitas di recepsionist dll, yg tdk sanggup tdk diperkenankan masuk.
      C) aturan untuk mucikari, komisi untuk psk ditetapkan oleh peraturan, angk, a minimal nya hrs tinggi, (ada kintrak yg jelas, pembayaran dg kwitansi)

      Reply
      1. andy

        3. Secara berkala pemkot melakukan evaluasi, mendata tamu yg datang, buat statistik, diumumkan di media, evaluasi disiplin petugas, evaluasi kepatuhan pajak, kalo perlu pajak dibayar khusus oleh pelanggan/yu di loket yg ditunggu petugas pemkot. Jadi tamu baru bisa ketemu psk jika sdh prgang 3 keitansi.
        Aturan2 ini bisa menurunkan jumlah pelanggan sekaligus psk nya. Lambat laun pelanggan akan malas datang, selain ribet, mahal juga namanya terdata di pemkot.

  47. d_satria

    Yang paling menarik daei artikel ini adalah tanggapan dari teman2 dibawah.
    Ada yg setuju ad yang kagak.
    Kalo saya pribadi gak setuju dan cenderung mengarah ke garis yg agak keras.
    Tutup lokalisasi, malah menyebar. Karena takut malah menyebar kd jgn ditutup. Ini sebagian besar yg ingin lokalisasi jgn ditutup. Seperti semut. Hancurkan sarangnya. Semutnya akan menyebar. Tangkap ratunya niscaya semut2 gak akan ngumpul di situ lg. (Semut berkumpul dmn ad ratunya, dalam hal ini mucikari). Ratunya sudah ditangkap. Ni yg kabur kemana2 bakalan bingung. Nah tugas satpol pp yg ngeberesin sisa2 yg kabur n tpt kecil semut berkumpul. Tangkap. Beri pelatihan n pekerjaan. Masih jadi psk terpaksa Pidanakan. Sudah dipidanakan masih lanjut lg. Apa boleh buat. Harus dibinasakan..

    Reply
  48. vivie

    Ya Allah…., begitu kompleks masalahnya, dan salut Buat Ibu Risma…, itulah wanita bila jadi pemimpin…dia akan menggunakan hati dan perasaannya menyikapi segala masalah….

    Reply
  49. heny pratiwi

    Astaghfirullah… Jadi Speechless ya. Jadi nangiissssss 😥

    Semoga semua lokalisasi di Indonesia (kalau masih ada) bisa ditutup semua, dan semoga ngga ada lagi. Aamiin.

    Reply
  50. muhammad abdul mannan

    Ane mw ikut nimbrung nyambung debat ‘pakai logika’ ala candra wiguna ah.. Well,, asumsi awal ane sih anda klo gak pelanggan ya pihak ketiga yg diuntungkan dgn bdirinya dolly,, asumsi atw hipotesa sah dong dlm pmikiran teoritis anda 😀 tgl dbuktikan saja 😛

    Analogi amputasi kaki untuk mncegah sel tumor itu menyebar sama dgn apa yg mnjadi inti dr wawancara dgn bu risma.. Side effect dan pnularanx sdh mlai tdk dpt dkendalikan, dan smw menyebar dr kaki yg sdh tkena tumor tsb. Argumen yg anda smpaikan sama dgn argumen awal para pnggagas brdirinya prostitusi legal ITU. Dan anda lihat dampaknya skrg? 🙂 (iyakan saja dlm hati, anda kan ngakux pintar). Solusi yg anda tawarkan smakin kliatan jelas kelemahanx krn anda sndiri yg mngatakan bhwa sdh banyak pjabat sbelumx yg brusaaha ‘menyelesaikan’ atas nama ‘logika’ tp dr hati dan otak yg busuk (maaf, sayangx benar 🙂 ) sehingga anda lihat lg langkah mereka prcuma,, dampak masif yg trjadi saat ini akibat langkah melempem mereka di masa lalu yg tidak tegas dan jelas. Pilihanx skrg begini: kalo kaki tkena tumor yg siap mmbunuh si empunya kaki krn sel2 tsb mnjalar sdmikian cepatx maka apa yg akan anda lakukan? Kalo anda dokter yg benar, tdk salah jika mngorbankan kaki diamputasi asalkan nyawa si empunya kaki selamat. Sayangx anda memilih kakinya utuh tapi jadi kaki mayat 😀

    Itu langkah awal sbg tindakan prtama mnghadapi mslh super urgen spti ini. Apakah masalah slesai?? Pastinya belum, krn spti hal x pasca amputasi, byk treatment yg masih harus djalani. Tapi ingat, nyawa si empunya kaki diSELAMATkan. Jadi ini akan mnjadi awal dr tindakan2 besar selanjutnya, bukan bhenti smpai d penutupan lokalisasi sja. Dan ane lihat, bu risma sudah menyadari itu kok. Sayangx anda tidak sepintar bliau, maka x tdk bakal jadi walikota 😀

    Reply
  51. muhammad abdul mannan

    Oya, konsistensi jg pnting dalam argumentasi lho ya.. Klo mrasa tdk perlu mmasukkan norma2 agama maka jgn bawa2 contoh asal yg menjatuhkan agama orang lain. Tapi kalo mw lanjut monggo buka kitab suci agama anda (kalo gak atheis c) dan ane buka kitab suci agama ane, kita buktikan mana yg pro protitusi legal (maaf jd vulgar, soalx temanya itu 😀 )..

    Reply
  52. Eka Azzahra

    Reblogged this on Eka's Voyage and commented:
    Setelah membaca tulisan ini dadaku sakit, miris, ingin menangis… Aku nggak ngerti kenapa ada aja orang yang menentang niat baik seseorang untuk melakukan perubahan, perubahan untuk kebaikan generasi penerus bangsa. Sepertinya perlu dipertanyakan kesehatan akal dan kejiwaannya orang-orang yang membela kukuh kemaksiatan, sesuatu yang telah jelas kotor dan buruknya…

    Reply
  53. mulya189

    mendengar n melihat n membaca berita ini rasanya mual….anak sd…astagfirullah,innalillahii…miris….sungguh berat ptanggungjwbn pemerintah…bukan hanya walkot,tp jg presiden…tp jg diri kita yg ga tau ada saudara yg memerlukn phatian….ya rabb…beri kekuatan pemimpin kami yg ikhlas utk selalu bbuat kbaikan…bu risma…hwaiting

    Reply
  54. Enje

    sip. sebagai yg jarang nonton tv dan akses buka youtube terbatas, akhirnya saya jadi tau apa yg lagi ramai orang bicarakan ttg bi Risma *walaupun sudah pernah tau profilnya en Dolly yg ditangani.

    jadi sebel, jaman kuliah saya mengamini perkataan dosen ilmu perilaku yg mendukung adanya tempat prostitusi macam Dolly demi gak menyebarnya penyakit sosial yg satu ini. setelah baca skrip najwa dan bu risma, saya jadi mengutuk si pak dosen! O_o

    tfs anyway

    Reply
  55. Qui Gon Jean

    Kalau menurut saya inti sebenarnya adalah ucapan si ibu yang ini:

    “…Sebenarnya saya ingin berubah, tapi janji pemerintah bohong, katanya saya mau diberi ini-ini, tapi ternyata bohong semua.”

    menutup lokalisasi bukan sekedar “menutup” praktek prostitusi. Praktek akan terus ada dan hanya akan bermutasi apabila tidak disertakan solusi untuk alternatif bertahan hidup. Makanya Ibu Risma di awal tidak bisa serta merta langsung menutup lokalisasi.

    ““…saya belum bisa memberikan makan semua orang itu.”

    Lepas dari kondisi yang mengejutkan seperti yang diceritakan Ibu Risma, menutup lokalisasi perlu komitmen dari pemkot dan masyarakat sekitar untuk keberlangsungan hidup para pelaku praktek prostitusi. Pemkot harus siap memberi solusi, dan masyarakat harus siap untuk berbaur dengan para mantan pelaku prostitusi. Karena setelah sekian lama mereka melakukan bisnis pada area spesifik, setelah penutupan maka akan bersentuhan dengan publik yang lebih umum (berdagang, jualan nasi rames misalnya).

    Meski demikian, dengan kondisi seperti itu saya sendiri merasa memang perlu untuk menutup lokalisasi secepatnya. Tentu dengan solusi yang juga secepatnya.

    Reply
  56. emma holiza

    Prostitusi memang masalah klasik di semua bagian bumi ini. Memang dampaknya thdp anak2 mengerikan sekali. Di Jkt juga parah kok mas2 dan mbak2, sy pernah tau psk usia lanjut yg cm mampu bikin ‘show’ saja dengan duduk di atas meja yg sdh dilubangi bagian ‘situnya’. Dan anak2 SD atau SMP yg sdg penasaran2nya dgn sex, masuk ke kolong meja bergorden tsb, bebas mengeksplor dilengkapi dgn senter yg tersedia. Tarifnya ya sama, 2 atau 3 ribu saja. 😥 Mirisnyaa..

    Reply
  57. Roberto Dino Aguirelo

    Yah Lokalisasi ditutup PSK itu masih tetap jumlahnya, bahkan menyebar dan membaur dengan masyrakat. jangan menutup mata sederhana bahwa lokalisasi ditutup masalah selesai.
    ROmi benar, mereka jadi PSK itu tidak karena mau cari makan, 90% PSK itu duitnya banyak bisa beli gadget dan poya2. tapi nabung nihil. mungkin kurang dr 10% yang bisa kirim duit ke kampung.

    Jakarta, PSK itu bak jamur di musim hujan, walau tdk ada lokalisasi. coba ke Hotel Travel Mangga besar, ada 200-300 PSK kali, coba datang ke Hotel Alexis, coba datang ke Hotel Fashion, coba datang ke Hotel Malioboro mereka semua PSK jumlahnya mungkin belasan ribu kalau di hitung sama PSK di spa, seperti Kimochi Spa mangga besar (http://kimochimabes.blogspot.com/) atau Grand Kimochi Cempaka Putih ( grandkimochi.blogspot.com) semua PSK itu dipajang foto2nya.

    begitu juga di tematik http://tmspa.blogspot.com/2013/04/foto-therapist-tematik-spa.html

    dan mereka 100% kalau keluar ke MALL akan pakai jilbab (no offense ke agama) tapi memang kenyataan begitu, mereka kebanyakan dr Indramayu, Karawang, Kuningan, Cianjur, dll.

    jadi apa yang dilakukan ibu Risma is ok, but is not solve any problem yet.

    kalau mau berantas prostitusi itu hailangkan korupsi, semua tempat esek2 di jakarta itu nyetor ke oknum polisi, dibilang oknum tapi lengkap dr mabes bareskrim, polda , polres sampai polsek.

    bahkan mereka sudah punya jaringan. misal TSM group itu ownernya selalu punya foto bareng sama pejabat aktif jendra berbintang. selama korupsi dan KKN ada, selama itu pula prostitusi SD kek, SMP kek akan terjadi. karena pejabat yg melindungi bisnis esek2 beraset Trilliunan, saya ulangi trillinan.

    Reply
  58. Ghost10nov

    Trus maju dan gak usah Ragu Bu Risma,saat ini yg diperlukan adalah KEPUTUSAN DAN TINDAKAN TEGAS untuk perubahan yg lebih baik Negri ini…,bukan cuma sekedar Wacana,Komentar,diskusi ato adu argumen untuk menunjukkan siapa yg menang NGOMONG…kami warga srby 100% siap mendukung kputusanmu…

    Reply
  59. indah priha

    ini peringatan keras bagi semua orang tua untuk lebih care pada anak-anaknya secara menyeluruh nggak cuma soal akademis tp jg psikologis. itu anak yg deket ama lokalisasi tp yang jauh pun bisa krn pornografi semakin mudah di akses.

    Reply
  60. Widya

    Saya setuju bgt sama bu Risma, dolly harus ditutup. Walaupun ngga benar2 menghapuskan prostitusi, setidaknya ini mempersulit prostitusi untuk berkembang biak. Saya ngga setuju dengan pendapat kalau dolly ditutup maka prostitusi akan tambah merebak secara underground. Kenyataannya sekarang, walaupun ada dolly, prostitusi terselubung di sby (di rumah kos2an, dll) sudah sangat biasa. Mereka itu segmennya biasanya agak lebih tinggi daripada psk dolly. Paling tidak dengan ditutupnya dolly, sebagian psk dengan segmen tertentu dipersulit keberadaannya.

    Reply
  61. wee syafa

    @ candra wiguna or whatever
    mngkin agak diluar konteks..yg sy mw blg bkn ttg prostitusix aj
    Lepas dari teori,konsep,artikel,dll

    Tpi jujur sy pnah ngalamin ndiri cuz pnya temen yg tinggal disekitar situ,
    lingkungan sosial di dolly bdampak besar ama kelakuan & pola pikir mereka entah itu cwo/cwe bisa dibilang mreka ngehalalin semua cara bwt dpt uang entah itu nipu orang,ngejual cwe,dll

    Awalnya sy ndak ngira klo warga yg domisili di kawasan td tu gk kepengaruh adanya lokalisasi..tp in fact???

    Mmg nutup lokalisasi td bkn pemecahan yg terbaik..Tp bukannya paling ndak “Lebih baik bertindak daripada diam cm argumen teori?” 😀

    Reply
  62. budi212121

    Hallo pak candra si ular pintar berkelit,,,,,,ente takut lokalisasi ente ditutup ya…. akakakaka sepintar apapun anda berbicara…ular tetap ular pak…..tidak terlihat niat baik dihati anda,….tidak akan tergerak orang dengan anda berbicara walaupun sampai mulut anda ileran xixixixi.
    Manusia punya hati nurani pak…ga akan ada yg tergerak menangis baca tulisan bapak candra yg pintar itu…yg ada responnya cuma kesal, bingung karena berputar2 alias sok pake teori padahal kebelinger sendiri…itulah hati pak ga bisa dibohongi 🙂
    Kalau memang niat tulisan anda baik tentunya hanya kesejukan dihati kami yg ada sedangkan anda tulisan anda sudah menunjukkan arogansi……
    …..anyway buat yg ga setuju ditutup yg pastinya pro prostitusi ya pak candra??
    Tutup sajalah tempat prostitusi anda itu pak….hehehe
    cari uang masi bisa dagang to…..:)
    Ya Allah lindungilah kami dari kejahatan manusia……..kejahatan berbicara dan niat baik yang tersembunyi maupun terang2an……

    Reply
  63. Halim Santoso

    Semoga ada “Bu Risma” lain di negara kacau hukum seperti Indonesia yang bisa ikut membenahi moral bangsa dan berjuang untuk kejujuran dan kebenaran…

    Reply
  64. tri isna yulisati

    Acara mata najwa semua memberikan banyak inspirasi buat kita dalam menentukan langkah apa yg akan kita tempuh buat kebaikan, namun episode yg paling menyesakkan dada saya ketika Najwa berdialog dengan ibu Risma…..karena perempuan ini berbuat dan melangkah tanpa pretensi, dia bertindak atas nama kebenaran dan nalar yang manusiawi. Risma menjadi walikota bukan karena ambisi politik atau popularitas atau apapun yang bersifat duniawi, tetapi tak lebih dari ingin memperbaiki harkat kota Surabaya dengan seluruh isinya.
    Risma…..majulah terus untuk berbenah, karena bangsa ini butuh sentuhan kejujuran dari pemimpinnya.pemimpin yang tidak butuh popularitas dan sanjungan. Karena kau bekerja dengan hatimu yang bersih.

    Reply
  65. Apli Alpi D'Together

    Sebenarnya kasus seperti ini sudah menjadi rahasia umum di Indonesia. Saya menyebut Indonesia karena tidak hanya di Surabaya yang ada kasus seperti d atas. Karena, bagaimanapun juga rakyat di Indonesia tidak bisa jauh dari yang nama nya kemiskinan. Sehingga apapun bisa terjadi demi mendapatkan rupiah.
    Tindakan Bu Risma memang hebat tapi tanpa strategi dan ceroboh. Berapapun lokalisasi yg di tutup tidak menjamin untuk bertambahnya lokalisasi-lokalisasi lain.
    Jangan menjadi orang pertama yang mati konyol serta sia-sia di depan medan tempur.

    Reply
  66. alay

    klo soal penutupan itu salut buat bu risma, tp coba lihat yg mahal2 msh brtebaran, spa2,pijit2 plus2, dgn berisi anak2 dibawah umur, atau remaja2 yg diiming2 krja spg atw apa sj, tp trnyata kerjanya di spa2,pijit2, dgn kontrak yg lama,dan prlakuan2 nya. sya sering jg dengar terapis2 yg dibohongi pencari kerja didaerahnya. tetapi sdh jd smacam kbiasaan, anak disuruh kerja apakah kerja itu mw halal atw tidak yg pnting bs ngirim ke ortu.

    Reply
    1. Roberto Dino Aguirelo

      modusnya adalah, mereka menseleksi pencari kerja lewat agen pembantu rumah tangga, ketika tampangnya agak diatas rata2, maka ditawarin kerja di spa dengan gaji sedikit diatas pembantu, tapi di mess mereka akan di buat hidup dengan biaya tinggi dan pas2an. dan di kontrak tidak boleh berhenti di tengah jalan, berhenti harus ganti rugi.

      dan saat di mess mereka sudah di campur dengan teman2nya yang sudah “nyerah” yang sudah berprofesi ganti jadi terapis sekaligus PSK. dan kehidupan mereka 180 derajat berbeda, yang masih bertahan tidak mau jual diri hidup susah, kekurangan dan tidak bisa pergi kemana2. sedang yang sudah nyerah jual diri hidup bermewah2 semua bawa HP generasi terbaru dan akan terperosok dalam.

      ini terjadi di puluhan tempat spa, dan mereka rata2 bertahan 3 bulan sampai menyerah dan memutuskan menjual perawannya. perawan hanya diperjual belikan kepada pelanggan spa yang sudah dikenal. harganya pun sangat murah, kadang dibawah 3 jt.

      ini kenyataan, dan ini harusnya masalah yang diselesaikan. karena ini adalah akar dari prostitusi. spa2 tempat pijat di seantero jabodetabek cuma kurang dari 10% yang tdk menyediakan ekositem menuju prostusi. mereka semua menyerah… dan akhirnya jadi PSK.
      setiap habis lebaran akan ada ribuan (Catat: jumlahnya ribuan, calon PSK baru dan mereka akan siap melayani tamu antara 1 sampai 3 bulan setelah di training). PSK2 itu awalnya tidak mikir mau jadi PSK, tapi kemudian mereka jadi PSK, dan ketika pulang kampung bawa duit cukup banyak dan hidupnya SOK mewah pakai gadget terbaru harga diatas 7 jt. keluar versi baru pasti GANTI.

      dan mereka sedit sekali yang mampu menabung.

      kalau si PSK itu cantiknya kategori sangat cantik dan prospek jadi PSK akan laris, maka si germo akan memakai rentention process dengan memberikan hutang, rata2 dikasih mobil untuk dicicil. jadi PSK2 yang cakep2 rata2 belum 1 tahun udah bawa mobil seperti Jazz, CRV, Xtrail.

      ini buat pembacaya yang cupu2, mudah2an wawasannya lebih kebuka kalau baca tulisan ini.
      dunia tidak seluas apa yang kalian lihat saat nonton tayangan ibu risma.

      Reply
  67. Roberto Dino Aguirelo

    chiken nih, comment saya tidak di approve…. CHICKEN…CHICKEN… CHICKEN…
    jaman kebebasan pers saja anda memsensor comment layaknya KOREA UTARA.

    BULSHIT teori anda, cuma mencerna segelas berita saja… dan tidak berani menghadapi kenyataan bahwa prostitusi di luar LOKALISASI seperti yangs saya sebutkan jelas ada belasan ribu di satu provinsi saja.

    Disurabaya juga banyak di luar DOLLY. dan mereka itu bahkan mulai dari menjual perawan, satu perawan 3-10 jt tergantung cantiknya… tahukan anda itu tidak terjadi di LOKALISASI. itu terjadi di layer yang di cukongi polisi.

    Reply
    1. Hanif Ridwan Post author

      berhubung banyaknya spam yang cuma numpang iklan doang + titip link, semua comment saya pending review, saya tidak online 24 jam untuk mantengin komentar disini boss, jadi mohon sabar

      Reply
  68. Anggara Kasih

    Orang yang banyak bicara tanpa bertindak sama seperti mata pedang yang tumpul, keberadaanya tak akan mengubah apa pun. Kita semua sama, menginginkan penyelesaian terbaik untuk kasus ini meski kita punya pendapat masing2. Kita semua juga tersentuh dengan kasus ini. Namun, saya hanya ingin mengingatkan. Untuk teman2ku yang sudah “berkoar-koar” dalam berargumen, yang merasa paling benar, yang ingin menang sendiri, sampai2 membawa agama, ilmu, sejarah, penelitian ilmiah dsb, apakah yang bisa kalian lakukan di dunia nyata sana? Bisakah kalian membuktikan “panasnya” argumen kalian di blog ini di kehidupan nyata? Benarkah kalian akan melakukan apa yang kalian katakan disini? Yang saya sesalkan kenapa teman2ku sekalian malah bertengkar dan merasa pendapatnya paling benar. Jangan buang energi kalian untuk mengucapkan sumpah serapah pada lawan bicara kalian disini, gunakan semangat berapi-api kalian untuk menyelesaikan masalah ini. Kembalilah di dunia nyata, karena disanalah kisah ini berada. Banyak dari kita tahu apa yang harus dilakukan, tapi berapa banyak dari kita yang melakukannya? Tahu saja tidak cukup! Kita harus bertindak!

    Reply
  69. ⌣̊┈̥-̶̯͡.⌣̊♡̷̴̬̩̃̊R I ∂ I K ♡̷̴̬̩̃̊⌣̊┈̥-̶̯͡.⌣̊ arek suroboyo

    Sebenernya saya sendiri mendukung Ibu risma ….saya bangga memiliki walikota seperti ibu…………
    Namun disisi lain saya berpikir dgn ditutupnya kawasan dolly apakah diyakini bahwa nantinya tidak terjadi lokalisasi terselubung,atau penyakit yg tak terawasi masalah pelacuran dalam masyarakat…..krna nantinya merka semua kembali ke masyrkat…..Tuhan Yesus Memberkati Ibu Risma………

    Reply
  70. Raudha

    Naluri seorg Ibu, seorg wanita, seorg pemimpin yg peduli dgn nasib bangsa ini… Ttp semangat Ibu… Kau bisa melakukan yg terbaik, kami hanya pandai komentar dan tdk bisa berbuat ap2… Mdh2an Allah SWT sll melindungi & meridhoi ap yg Ibu Risma lakukan

    Reply
  71. rifan

    ijin share ya Mas.
    Sekedar komentar : Bu risma membuatku bangga, karena ditengah bobroknya mental bangsa, masih ada perempuan berhati jelita. Semoga menjadi inspirasi bagi semua wanita indonesia…

    Reply
  72. Anggara Kasih

    Anda benar sekali, saya bukan orang Surabaya, karena itu saya tak tahu bagaimana rasanya menjadi mereka dan dengan seenaknya saya hanya asal bicara tanpa mengerti perasaan mereka. Terima kasih, orang seperti andalah yang mungkin bisa membuat perubahan walau hanya berbekal kata. Roberto Dino Aguirelo.

    Reply
  73. Eksa Etisnawati Pomeroy

    Permisi ya..saya baru sekali ini komentar di blog-nya a stranger but saya tertarik untuk membawa kasus ini ke mata dunia Eropa. Adakah yang bisa membantu? Saya bingung harus mulai dari mana. Thanks in advance 🙂

    *miris

    Reply
  74. inan

    Astaghfirullah…
    semoga Allah SWT mengampuni segala dosa mereka dan memberikan hidayah utk mereka semua… Amin.
    Apapun alasan mereka, satu langkah tepat yang dilakukan Ibu Risma sebagai seorang pemimpin yg tdj sekedar mencari perubahan secara fisik di daerah yg dipimpinnya… tp jg perubahan mental yg sampai detik ini jarang sekali para pemimpin di negeri ini mau menyentuh atau menjamahnya..bahkan keberhasilan sebuah kepemimpinan seolah2 hanya terlihat dr berubahnya secara fisik saja.
    Keberanian Ibu yg sangat luar biasa ini sdh sepatutnya kita dukung klo benar2 ingin negeri kita tercinta ini tetap kokoh berdiri dgn segala ciri kasnya yg sdh sgt ideal ini.
    Terutama bg generasi penerus bangsa yg akan melanjutkan arah perjlnan bangsa ini nantinya. Mereka harus dibina mentalitasnya… termasuk hal yg sgt penting adalah dalam kemampuan mengendalikan diri dari emosi maupun syahwatnya…
    Semoga perjuangan ibu dalam amar ma’ruf nahi munkar ini selalu mendapatkan kemudahan dan petunjuk yg terbaik dari Allah SWT. Amin… Maaf..pasangan utk pengawas apa boleh diganti…coz ada yg namanya tertulis satu ruangan n sama2 bisa jaga… Supaya ndak bingung maka aku pisah sekalian.. Gmn bisa pa ndak…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s