Kenangan di Perpustakaan Britsih Council Jakarta Yang Asyik

s widjojo british council

S Widjojo Center : Dulu British Council Library Disini nih!

Mungkin sudah takdir ya, kecil di perpustakaan dan besar di perpustakaan. Itulah hidup gua yang selalu akrab dengan perpustakaan.

Emak gua itu wanita yang sangat cerdas, kenapa? karena sudah mengakrabkan anak-anak mereka dengan perpustakaan. Jadi setelah menjemput gua dan kakak gua pulang sekolah, mama langsung mengajak ke Perpustakaan British Council di gedung S Widjojo Center Jalan Jenderal Sudirman.

Sebetulnya bukan mengajak sih, tapi lebih baik dibilang menitipkan. Iya, soalnya kita berdua ditaruh gitu aja di Perpustakaan British Council, terus emak gua langsung cabut kerja lagi. Padahal di dekat sekolah ada tempat penitipan anak, cuma emang mahal sih…. Ya mungkin emak gua mikir kalau ditaro di Perpustakaan anak-anaknya bisa lebih pinter sekaligus berhemat. Hebat kan emak gue? 😀

Yaudah, jadi kan ceritanya gua itu anak yang aneh, gimana nggak aneh, mungkin cuma gua doang anak kelas 1 SD yang kerjaannya setelah pulang sekolah manteng di Perpustakaan British Council. Dan gua waktu itu sama sekali nggak ngerti apa-apa, wong bukunya bahasa Inggris semua. Kerjaan gua cuma satu waktu itu, nonton film-film kartun “Pingu” yang sama sekali nggak ada suara orangnya. Iya waktu itu gua sama sekali nggak bisa bahasa Inggris, masih kelas 1 SD soalnya.

pingu familyNah di British Council Library itu tersedia banyak TV 21 inch yang tersambung dengan 2 buah headset dan sebuah Betamax/VHS player. Jumlahnya banyak sekali, lebih dari 20 TV mungkin. Meskipun sudah begitu banyak, untuk menggunakannya kita seringkali harus mengantri menunggu giliran TV yang kosong. Hampir semua film Pingu mungkin udah gua tonton disitu bersama kakak gua untuk menghabiskan waktu hingga mama selesai pulang kantor.

Setelah film-film anak-anak habis gua kunyah, bingung lah gua mau ngapain lagi? Dari situ gua mulai mengeksplor ada apa saja sih di British Council Library?

Disana nggak ada Kids Corner atau semacamnya. Tapi disana ada koleksi buku anak-anak berbahasa Inggris yang menarik. Jadi gua mulai mencoba-coba membaca, tepatnya bukan membaca, tapi melihat-lihat gambar-gambar lucu yang ada di dalam buku tersebut. Karena anak cerdas rasa ingin tahunya tinggi (prett!), gua penasaran apa sih yang ada di dalam buku itu lebih jauh, gua minta aja sama emak gua buat minjem buku tersebut. Dan Wow! ternyata tidak hanya meminjam buku, kita juga mendapatkan sebuah kaset yang dipinjamkan sepaket dengan buku itu.

Sampai dirumah gua masih buka-buka tuh buku, masalahnya gua nggak pernah punya buku yang punya kemasan menarik dan terlihat mahal seperti buku itu, udah gitu dapet kaset lagi kan. Gua mencoba memutar isi kaset dan mengikuti apa yang diperintahkan sama orang yang ngomong di kaset tersebut. Tapi ternyata gua nggak ngerti itu bule ngomong apaan, Seriusan, beda banget ngomongnya sama emak gua tuh bule. Akhirnya gua cuma dengerin lagu-lagu  yang ada di dalem kaset. Salah satunya yang gua inget itu “Row Row Your Boat” dan “In The Jungle”.

Dari situ gua coba belajar baca-baca lewat kamus karangan Hasan Sadly dan John M Echols. Soalnya dirumah cuma itu satu-satunya kamus yang ada.

In the Jungle,
the mighty jungle,
the lions sleeps tonight.
In the jungle,
the quiet jungle,
the lions sleeps tonight.

Yaudah gua coba buka kamus kan. Akhirnya gua tau kalau Lion itu Singa, bukan odol Ciptadent. Quiet itu tenang, bukan keluar dan ternyata sleepy itu artinya mengantuk, padahal dulu papa sama mama sering banget pergi ke Slipi (kok nggak nyambung ya?), berlanjut belajar ke kata-kata lainnya dan terus menerus secara kontinyu. Buku yang gua pinjam itu ternyata adalah sebuah buku belajar bahasa inggris untuk anak-anak. Kalau nggak salah buku itu ada 5 seri, dan semuanya udah gua tamatin dalam waktu kurang dari 2 tahun.

Nah dari situ gua mulai bisa belajar sendiri, belajar mandiri dari buku, bisa cari informasi sendiri lewat buku buat belajar bahasa inggris, Bahkan sampe kelas 5 SD pun gua merasa pelajaran bahasa Inggris itu mudah karena udah pernah gua pelajarin waktu kecil lewat buku-buku perpustakaan di British Council. Nggak pake les loh!

Itulah awal dimana gua bisa belajar mandiri dari Perpustakaan. Dari kecil mama memang nggak memasukan gua ke tempat kursus bahasa inggris seperti teman-teman lainnya. Bahkan sampe kuliah, gua belajar bahasa inggris cuma dari buku, game, film sama sekolah. Gua juga suka baca buku-buku berbahasa inggris yang menarik meskipun harus buka-buka kamus. Emang susah, tapi setidaknya gua punya pemikiran kalau kamus bisa membantu kita dalam membaca bahan berbahasa inggris. Mungkin kalau gua dulu nggak rajin ke perpustakaan British Council bahasa Inggris gua nggak seperti sekarang.

Kembali lagi ah ke Perpustakaan. Iya, jadi perpustakaan British Council itu keren banget kan ya,  bayangin aja waktu itu tahun 1996-1997 ada Perpustakaan yang punya koleksi Betamax dan VHS lengkap sama TV dan playernya dengan jumlah cukup banyak, terus buku-bukunya juga menarik, yang paling keren disana ada komputer yang lengkap dengan jaringan internet! Keren parah! Bayangin tahun segitu ya. Dan disitu untuk pertama kalinya gua merasakan bagaimana membuka internet. Ya, walaupun cuma buka Yahoo dan Altavista doang sih (itupun buat nyari game :D). Tapi dimulai dari situ gua jadi tertarik sama komputer hingga sekarang. Bahkan dulu gua punya tabungan plastik yang rajin gua isi cuma buat biar bisa beli komputer. Bayangin aja pas dibuka isinya recehan semua ya kan, tapi bisa beli komputer! Walaupun kayaknya sih papa yang beliin, celengan itu cuma penghibur 😀

Well, itulah masa kecil gua yang seru, perpustakaan berhasil membuat hidup gua menjadi lebih berwarna. Meskipun dulu gua nggak punya Betamax player dirumah, apalagi VCD dan Laser Disc ya. Gua bisa menikmati itu semua di perpustakaan. Dimana temen-temen gua pada kaku ketika menggunakan komputer, gua udah bisa lebih ngerti dari mereka karena belajar di Perpustakaan (main-main sih tepatnya). Dan yang tidak bisa ternilai mungkin berapa biaya buat gua belajar bahasa inggris kalau dirupiahkan?

Sayangnya Perpustakaan British Council sudah nggak ada lagi, waktu itu sedang ada demo besar-besaran menjelang 1998. Perpustakaan British Council mulai labil nggak jelas buka dan tutupnya lantaran sering sekali terjadinya demonstrasi. Gua galau, habis ketika kesana ternyata perpusnya sering tutup. Kan nggak asik banget gitu ya ikut emak gua kerja jadinya. Akhirnya gua sangat sedih sekali ketika tahu Perpustakaan British Council tutup dan semua koleksinya dihibahkan untuk PDK.

Well, cita-cita boleh kan? Gua pengen deh di suatu hari nanti bisa bikin perpustakaan sendiri yang besar, terbuka untuk umum, lalu koleksinya benar-benar mengasyikan untuk dibaca seperti British Council, kalau bisa komputernya banyak, ada TV yang banyak lengkap dengan peminjaman film-film masa kini dan tentunya jadi tempat yang asyik buat nongkrong dan diskusi. Beneran, dibandingin generasi muda kita pada nongkrong di minimarket 24 jam, mendingan di Perpustakaan deh!

Terima kasih untuk British Council 🙂
Salam,

Ridwan Hanif!

Advertisements

4 thoughts on “Kenangan di Perpustakaan Britsih Council Jakarta Yang Asyik

  1. sadarito

    :O
    waaah, ternyata ridwan itu emang uda deket bener sama perpustakaan dari kecil ye?
    aaaaa, senangnya bisa nikmatin perpustakaan british council dikala dulu masih ada…

    Reply
  2. hahayyuhu

    Halo! random banget ga sengaja nemu tulisan ini. Kayanya lo doang deh seumuran gue yang masih inget sama British Council.
    Dulu gue diajak ke British Council sama kakak gue (itu gedungnya deket BEJ atau emang gedung BEJ gt bukan sih lokasinya?). Nagih banget, minta kesana terus abis itu hehe.
    Iya, buku anak-anaknya warna-warni, gambarnya lucu-lucu. Gue seneng banget nonton VHS disana, Bob The Builder kayanya deh, berasa keren juga pake headsetnya yang gede itu, walaupun ga ngerti.
    Btw, gue baru aja kemarin ada pingu ditayangin di B Channel, hehe.
    Wah.. beneran udah ga ada perpustakaannya yah sekarang… sedih ya. Semoga cita-cita mulia lo tercapai, biar anak gue kelak bisa kenal perpustakaan yang keren dan asyik, bukan cuma gramedia

    Reply
    1. Hanif Ridwan Post author

      Amin…. hahaha kita termasuk orang orang langka…. perpus bc di tahun segitu terlalu keren untuk zamannya. Bahkan sampai sekarang nggak ada yang kaya gini lagi kayaknya. Amin amin

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s