Untuk Perpustakaan Lebih Baik Pakai RFID atau Barcode ya?

Perpustakaan sekarang pastinya harus modern dong, ya minimal ada katalog digitalnya, setelah ada katalog digital pun ternyata tidak cukup, untuk mempercepat sirkulasi koleksi sekaligus mempermudah pustakawan, diperlukan sistem identifikasi digital agar tidak perlu menginput data satu persatu. Dewasa ini kita diperkenalkan dengan barcode system dan RFID.

Barcode

Bisa dibilang teknologi barcode adalah teknologi lawas, dari zaman kita kecil kita sudah akrab dengan metode identifikasi  yang sangat praktis ini. TInggal scan kode barcode ke scanner, daaaannnn… komputer langsung mengenali koleksi tersebut tanpa harus kita menginput kode koleksi dengan keyboard. Barcode ini memang sangat membantu, harganya juga murah tergantung dari kualitasnya. Mau berhemat bisa cetak sendiri, lem sendiri pakai printer dirumah. Atau kalau mau modal bisa beli alat barcode printer beserta kertas label thermal yang berbahan baik agar tidak mudah rusak dan tentunya lebih mudah diidentifikasi. Hanya saja untuk ngeprint barcode printer ini dibutuhkan sedikit training agar tidak salah dalam mencetak kodenya.

RFID

Radio Frequency Identification Device, agak panjang ya kalau tidak disingkat. Gampangnya, RFID ini merpakan alat yang sering kita temui di toko kaset di hipermarket dekat rumah, atau baju/barang yang sedikit pricey di supermarket sehingga ketika kita keluar tanpa membayar, gerbang tersebut akan berbunyi dan kita akan ditangkap satpam. Woalah…..

Simpelnya sih kaya gitu, tetapi belakangan ini RFID tidak hanya digunakan sebagai detektor anti maling terhadap suatau barang. Namun di RFID juga dapat menyimpan data sekaligus identifikasi sebuah produk. Nah RFID ini sekarang lagi ngetrend, karena lebih mudah dari barcode cara identifikasinya. Kita cukup dekatkan buku ke alat scanner RFID, dan tada!!! komputer kita langsung mengenali koleksi tersebut dengan cepat. Nah selain untuk identifikasi, RFID ini juga bisa sekaligus digunakan untuk alat anti maling, jadi seharusnya lebih hemat.

Sayangnya harga modul RFID scanner dan unit RFID perlembarnya cukup mahal, RFID standar sebagai alat identifikasi harganya sekitar 1 US$ atau sekitar 12 ribu rupiah, dan itu belum termasuk scanner. Jadi bayangin aja tuh kalau perpustakaannya punya 10 ribu buku. Total buat modulnya aja sudah ratusan juta rupiah. Waks!

Meskipun begitu, diantara dua alat identifikasi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Diantaranya:

Barcode RFID
Lebih kecil dan mudah dipasangkan pada saat instalasi Dapat dibaca dari jarak jauh, tidak harus menempel dengan scanner
Jauh lebih murah dibandingkan dengan RFID Tidak perlu membuka halaman buku dan menunjukan letak modul RFID
Teknologi barcode sudah sangat familiar dan mudah disesuaikan dengan berbagai software Lebih cepat dibaca oleh komputer
Tingkat akurasi identifikasi yang cukup tinggi dibandingkan dengan RFID Dapat diwrite dan dihapus isi datanya dengan komputer (digunakan kembali)
Lebih banyak dipahami oleh kebanyakan orang Keamanan data lebih terjamin dibandingkan dengan barcode
Aman, tidak menarik untuk dicuri Dapat menyimpan data di dalam modul dengan kapasitas yang cukup besar

Sedangkan baik Barcode dan RFID, masing-masing memiliki kekurangan sebagai berikut:

Barcode RFID
Untuk membaca barcode, kode barcode harus diperlihatkan dan di scan tegak lurus dengan kode Jauh lebih mahal dibandingkan RFID
Hanya dapat dibaca dalam jarak yang relatif dekat Pembaca RFID bisa mengalami tabrakan sinyal jika polusi frekuensi radio cukup tinggi
Barcode tidak memiliki kapasitas untuk menyimpan data, semua data terdapat di server Menarik untuk dicuri pada tiap koleksi karena harganya cukup mahal
Keamanan lebih rentan karena mudah ditiru Diperlukan dua buah alat, yaitu untuk melakukan write dan read
Barcode gampang rusak karena terlihat secara fisik, atau kualitas print barcode yang kurang bagus Keamanan data lebih terjamin dibandingkan dengan barcode
Jika barcode rusak, tidak ada cara lain untuk membacanya kecuali terdapat kode dibawah barcode Bisa rusak jika didekatkan kepada logam dengan medan magnet tinggi

Nah, dengan segala kelebihan dan kekurangan dua alat identifikasi tersebut, pasti bikin galau kan mau pilih yang mana. Oke, biar gampang sini saya bantu simpulkan.

Pertama, Barcode cocok untuk perpustakaan yang minim dana dan tidak begitu antri banyak sirkulasi peminjaman bukunya. Tetapi perpustakaan harus memiliki tenaga pustakawan yang benar-benar bekerja untuk menjaga sirkulasi.

Kedua, RFID cocok untuk perpustakaan yang sudah mapan, perpustakaan yang mampu mengadopsi teknologi peminjaman buku otomatis dan teknologi-teknologi lainnya yang menghilangkan peran pustakawan dalam sistem sirkulasi. Sehingga seorang pengguna perpustakaan sudah bisa mandiri untuk melayani kebutuhan informasinya sendiri.

Ketiga, RFID tentunya lebih aman dan tidak membebani kerja server. Karena RFID tidak hanya mengidentifikasi, namun sekaligus sebagai detektor maling buku. Selain itu RFID juga menyimpan data koleksi, sehingga dalam proses identifikasi, komputer tidak perlu menarik data dari server (Pas nih kalau lagi mati lampu).

Untuk sementara ini cuma itu saja sih yang baru bisa di share, kalau ada yang menambahkan silahkan di kolom komentar dibawah ini.

Advertisements

One thought on “Untuk Perpustakaan Lebih Baik Pakai RFID atau Barcode ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s