Pembajakan Buku, Bukan Hal Baru

pirate-bay

Sebagaimana mahasiswa duit ngepas pada umumnya, saya gemar sekali membeli BB. Namun bukan BB disini bukan BlackBerry yang menjadi icon sosialita masa kini. Tetapi BB disini ialah Buku Bajakan. Loh, buku dibajak juga? Betul, nggak cuma musik doang yang dibajak, tetapi bukupun juga dibajak. Bahkan sudah dari zaman dahulu kala.

Kenapa sih kok beli buku bajakan? Jawabannya satu. Karena MURAH. Gimana nggak murah, coba mampir di Gunung Agung atau Gramedia. Berapa harga yang harus dikeluarkan untuk sebuah buku? pasti diatas 50 ribu Rupiah bukan? Di toko buku bajakan, harga buku hanya berkisar 15.000,- hingga 40.000 Rupiah. Harga tersebut bukan dilihat dari bukunya, tetapi dari tebal buku. Jadi untuk buku-buku populer yang berharga 60ribuan, di toko buku bajakan kita bisa dapet 3 sekaligus. Asik kan? Iya asik, tapi pengarangnya rugi dong!

Bicara tentang pembajakan, di Indonesia kini sudah mulai ketat peraturannya. Berbeda dengan zaman Sukarno. Dulu Soekarno dengan kabinet Juanda-nya dengan tegas keluar dari Konvensi Bern di tahun 1957 tentang hak cipta. Bukannya Soekarno mau membajak dengan bebas saat itu. Tapi Sang Proklamator menilai bahwa Mahasiswa dan Pelajar Indonesia masih belum mampu membeli buku. Nah, kalau mahasiswanya nggak bisa dapet buku bajakan, pasti Indonesia lebih terbelakang lagi dibandingkan hari ini.  Pintarnya Soekarno, ia beralasan karena penerapan undang-undang hak cipta 1912 yang mengharuskan pemeriksaan di Belanda. Soekarno juga melihat Jepang yang tidak ikut Konvensi Bern dari awal justru membuat mereka bebas mengalihkan produksi teknologi negara barat. Makin jadi deh!

Nah, sekarang apa Mahasiswa dan Pelajar Indonesia masih belum mampu untuk beli buku? Jawaban saya pasti 100% bilang “Iya, belum mampu!”. Terutama untuk buku-buku perkuliahan. Coba berapa harga satu set DDC yang kita gunakan untuk belajar? Atau harga AACR, harga buku-buku ilmiah kedokteran, ekonomi, teknik dan yang lain-lain. Harganya bisa menyamai biaya kuliah kita selama 1 semester! Sedangkan untuk bayaran kuliah 1 semester saja kita sudah susah. Betul? Oleh karena itulah kita beli buku bajakan, Nggak usah jauh-jauh buku kuliah, buku populer saja yang harganya 60ribuan pun juga ikut dibajak. Dan sialnya saya ikut mengkonsumsi hal tersebut.

Sekarang lebih canggih lagi, kemarin waktu saya memberikan seminar tentang literasi informasi menggunakan search engine google dalam rangka memenuhi salah satu tugas kuliah. Pertanyaan yang paling banyak ditanyakan sama mahasiswa yaitu tentang cara mencari e-book bajakan. Sialnya, persentasi yang tadinya agak diacuhkan oleh peserta, tiba-tiba mendadak jadi serius menyimak tentang cara mencari e-book bajakan. Uedan! Karena malu kalau nggak dijawab, akhirnya saya keluarkan juga jurus-jurus pamungkas bagaimana cara mencari buku bajakan di internet. Perlu diakui juga mulai tahun 2012 ini saya sudah berhenti membeli buku bajakan karena e-book bajakan jauh lebih hemat. Tunggu saja satu atau dua bulan dan “Boom”, buku yang anda maksud sudah ada versi e-booknya dan dapat di-download gratis di internet. Makin Parah!

Lalu gimana dong solusinya memberantas pembajakan buku? Ah itu simple sekali sebenarnya, banyakin saja jumlah perpustakaan, buat koleksinya selalu up-to-date, lakukan promosi yang gencar dan yang pasti tingkatkan pelayanannya! Buat apa pemerintah punya anggaran besar untuk promosi anti pembajakan? mendingan dialihkan saja ke Perpustakaan. Atau buat saja peraturan setiap penerbit waijb menyumbangkan setiap koleksi yang mereka cetak ke perpustakaan agar perpustakaan selalu up-to-date. Mending dibagiin ke perpustakaan dibanding bukunya dibajak kan? Kalau pemerintah cuma melarang pembajakan buku, nantinya yang ada hanya menurunkan minat pembaca masyarakat. Nah, jadi pisau bermata dua dong jadinya….

Maka dari itu dalam rangka meningkatkan minat baca, berikan masyarakat perpustakaan yang bagus. Yang mau menerima masukan, update dan pelayanannya ramah. Oh tentu saja saya lebih prefer untuk membaca buku asli meskipun itu pinjaman dari perpustakaan dibandingkan harus membeli bajakan atau membaca e-book yang bajakan pula. D

Advertisements

5 thoughts on “Pembajakan Buku, Bukan Hal Baru

  1. Tiyo Kamtiyono

    Hahaha… mantab tuh alesannya mas, saya juga punya koleksi ebook beberapa GB, tentang webdesign dan online marketing kebanyakan. Hidup pembajakan buku 😀 (juga pilem barat 😆 )

    Reply
  2. Yani Tresnawaty

    tanya donk, pendapatnya soal buku2 bajakan yg disimpan di perpustakaan. Saya sedang cari referensi tentang hal itu, baik sebatas pendapat, pengalaman atau dengan peraturan resmi nya.

    Reply
  3. Mizuki

    Keren premis yg “untuk apa pemerintah ngabisin anggaran buat promo program anti bajakan”
    Bener juga. Sosialisasi aja takkan bikin solusi. Nice *sayang blogku bukan wordpress, jadi gabisa follow. Tpi insyaallah bakal sering mampir dah

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s