Ideal Is Me (Idealisme)

Alhamdulillah ya kalau blog ini dibaca banyak calon-calon mahasiswa di seluruh Indonesia (lebay). Tetapi memang bener kok. Pengunjung blog ini dalam sehari bisa mencapai seribu visitor menurut statistik WordPress dan alat bantu lainnya. Tapi bukan itu yang menjadi titik permasalahan disini.

Idealisme

Alkisah gua beberapa kali nemu komentar dan mahasiswa baru yang masuk ke Jurusan Ilmu Perpustakaan dan informasi akibat terjaring dari infromasi sesat yang ada di Google. Karena bahasa marketing yang cukup bagus dari Adit Wicaksono dan beberapa tambahan dari gue, nggak cuma satu orang yang tertarik dengan ilmu perpus dan memutuskan untuk mengambil jurusan ini di salah satu Universitas terkemuka (secara nggak semua universitas ada jurusan ini).

Lantas apa yang membuat mereka tertarik masuk ke dalam Ilmu Perpustakaan? Biasanya karena :

1. Peluang Kerja
2. Peluang cari duit
3. Pengen jadi PNS

Ketiga faktor itu yang mungkin menurut pengamatan gua terlalu menjanjikan sebuah peluang memupuk harta daro seprang calon pustakawan. Seneng sih kalau orang-orang jadi pengen masuk ilmu perpustakaan dan passing grade naik sehingga jurusan ini menjadi lebih bergengsi.

Namun hati kecil ini sering kali bertanya :

Kalau semua mahasiswa yang mau masuk Jurusan ini mikirnya hanya melihat peluang cari duit, cari aman atau pengennya dapet kepastian pekerjaan. Nantinya kemana idealisme pustakawan untuk membangun Perpustakaan Indonesia yang lebih baik?

Jeng-jeng, gua kembali mempertanyakan diri sendiri. Gue sendiri, apakah gua pengen jadi pustakawan yang bener-bener idealis untuk mengembangkan Peprustakaan di Indonesia. Atau gua selama ini nulis di Ilmu Perpus cuma kepengen biar banyak orang yang masuk ilmu perpustakaan agar jurusan ini lebih bergengsi?

Gua sendiri sebetulnya masih galau dengan ilmu perpustakaan kalau boleh dibilang. Bukan karena nggak tertarik atau kurang suka dengan pelajarannya. Karena apa yang gua hadapin sehari-hari ini jauh dari kegiatan kepustakawanan dan sama sekali nggak ngambil peluang untuk bekerja dan berdedikasi di Ilmu Perpustakaan. Terus ngapain belajar ilmu perpustakaan? Gua sendiri nggak tau harus beralasan apa. Pernah juga curhat sama mama dan jawabannya begini : “Yang penting kamu selesai dulu S1, soal ilmunya kepake atau enggak itu urusan belakangan. Toh kalau kamu mengerjakan apapun, kalau serius dan bersungguh-sungguh pasti jadi kok”.

Mungkin gua adalah salah satu manusia yang menjadi produk dari tuntutan tren pemuda masa kini yang cenderung punya dua aturan sebagai berikut:

1. Lo harus sukses
2. Sukses itu punya uang banyak

Betul? kalau kita hidup miskin, betapa hinanya kita di mata masyarakat, apalagi di mata orang tua yang telah membesarkan kita. Idealisme untuk membangun Negara, Agama? Ah, sudah lupa tuh. jangan kan untuk membangun negara dan agama. Untuk membangun value saja tidak pernah terpikirkan oleh pemuda-pemuda masa kini. Akibatnya nggak jauh jauh

Orang akan sikat sana, sikat sini untuk meraih kekusaan

Tipu-tipu demi uang nggak masalah

Suap sana suap sini menjadi hal yang biasa agar proyek langgeng

Bahkan pengusaha-pengusaha muda yang sering kita kenal saat ini nggak sedikit yang melakukan aksi-aksi busuk demi mengejar harta semata. Tapi karena kita tidak tahu, semuanya tertutup oleh pencitraannya yang baik dan orang hanya memandang sebatas apa yang dia pakai dan dia peroleh. Bukan valuenya! Dan yang paling menohok, orang tua mereka bangga dengan keberhasilan anaknya meraih semua harta benda itu tanpa mengetahui cara-cara mereka meraih harta-harta kesuksesan mereka itu.

Celakanya, keadaan sosial saat ini sangat menyedihkan. Orang yang tidak mampu mnghasilkan uang banyak seringkali dicap dengan kata “Gagal” dan membandingkan dengan si “sukses”. Semua orang berlomba-lomba untuk menjadi si kaya dan jarang berlomba-lomba untuk menjadi orang yang bermanfaat.

Lain lagi dengan seorang teman gue yang menurut gue mungkin dialah pemuda yang paling value yang pernah gua kenal. Daeng Andi Tarang atau yang dikenal denan nama Andivox di twitter. Dialah salah satu orang yang luar biasa idealis dengan Rumah Baca Panternya. Ia mendidik, mengayomi anak jalanan yang tadinya tidak bisa baca-tulis. Mungkin bukan sekolah formal, tetapi Bang Andi mencoba untuk menyetarakan mereka dengan anak-anak yang memiliki orang tua berkecukupan.

Kenapa sih udah lulus kuliah bukannya cari kerja tapi malah bikin rumah baca buat ngedidik anak-anak jalanan di Terminal Depok? Apa dia sudah gila? Bahkan dia sama sekali belum mengambil Ijazah S1-nya dari Universitas Pancasila.

“Gue malu ngambil Ijazah Sarjana gue, Karena menurut gue, gue belum bermanfaat banyak buat sekitar gue dan gue rasa gue belum pantes dapet gelar Sarjana”

Orang yang sudah sebegitunya menurut gue, ternyata dia masih merasa belum pantas menerima gelar Sarjana. Sosok Daeng Andi ini mengingatkan gue akan sosok Kasim Arifin yang pergi KKN ke Waimital, Pulau Seram dan mengabdikan ilmu yang ia timba di IPB untuk mensejahterakan masyarakat sana. Dan akhirnya IPB memberikan ia gelar kehormatan atas dedikasinya yang tinggi terhadap ilmu yang ia punya setelah 15 tahun tidak pulang ke Jawa. Penyair Taufiq Ismail pun membuat puisi tentang Kasim Arifin karena mereka pada saat mahasiswa bersahabat.

Mereka mungkin sosok-sosok orang yang bertanggung jawab dan peduli dengan ilmu dan tenaga yang mereka miliki. Berbeda sama saya yang masih mikirin duit untuk masa depan, bukan manfaat apa yang bisa gue berikan untuk generasi ke depan.

Itu yang saya takutkan ketika di masa depan nanti orang-orang yang ahli di bidang Ilmu Perpustakaan tidak mau terjun dan memperbaiki Perpustakaan di Indonesia. Setelah menjadi ahli, IPK bagus dan orang-orang hebat di bidang ini. Justru malah menyibukan dirinya dengan kegiatan memperkaya diri. Dedikasi terhadap ilmu yang dia miliki? Sudah lupa tuh!

Ingat Indonesia masih butuh pustakawan, masih butuh tuh yang namanya program literasi informasi. Bulan September kemarin ada berita tentang gadis SMP yang meninggal gara-gara mengikuti panduan Aborsi yang ada di Internet, padahal caranya sangat tidak masuk akal. Ada juga karena informasi “mitos”, orang ingin berobat bukannya malah sembuh, eh malah makin parah.

Belum lagi informasi-informasi sesat lainnya yang ada di Internet maupun di kalangan masyarakat. Atau bagaimana dengan minat baca? Bagaimana dengan Perpustakaan yang tidak terjangkau masyarakat? Seorang petani dapat menghasilkan tanaman yang lebih bagus dan lebih efisien jika ia tahu cara yang tepat untuk bercocok tanam. Seorang Nelayan akan tahu bagaimana cara menghemat bahan bakar motor tempelnya, dan seorang pedagang akan tahu bagaimana cara meminjam uang ke bank untuk mengembangkan usahanya. Semua itu merupakan bahan yang seharusnya dapat mereka akses di Perpustakaan! Dan mereka seharusnya bisa mencarinya kalau mereka sadar betapa bermanfaatnya perpustakaan bagi kehidupan mereka.

Tapi kenyataannya ini tidak dapat diperoleh oleh mereka. Dan tugas siapa ini? Ya tugas orang-orang yang memiliki ilmu di bidang kepustakawanan termasuk anda para mahasiswa! Apakah kalian tidak ikut merasa bertanggung jawab mengenai informasi yang beredar? Apakah anda tidak merasa bertanggung jawab untuk menumbuhkan kesadaran untuk belajar pada masyarakat?

Yang pasti kita harus bertanggung jawab akan ilmu yang kita miliki, jangan disimpan sendiri!

Kalau mau jadi pegawai dengan gaji tinggi, banyak peluang kerja perpustakaan dan arsip di bidang perpustakaan di perusahaan swasta. Kalau ingin menjadi pengusaha, banyak juga tuh proyek-proyekan perpustakaan, Atau ingin hidupnya terjamin, silahkan jadi PNS, Kalian bebas memilih jalan untuk menjadi apapun yang kamu mau dengan ilmu yang kalian dapatkan selama kuliah di JIP. Tetapi ingat kata Pak Pram; “kalau hidup hanya untuk makan, minum dan beranak pinak, itu sama saja dengan binatang.”. Indonesia butuh pustakawan yang idealis dan mau membangun negeri ini jauh lebih baik!

Bagaimana dengan gue? Gue masih jauh sama apa yang gue tulis sendiri. Tapi setidaknya tulisan diri sendiri bisa menjadi salah satu nasihat yang paling “Jleb” buat penulisnya. Do’akan saya tetap istiqamah…

Jogja 25 November 2012

Advertisements

3 thoughts on “Ideal Is Me (Idealisme)

  1. Mizuki

    Jleb. Cetar banget tuh >_<
    2 standar kesuksesan yg ada di atas itu bisa jadi neraka memang. Dua kali aku nolak kerja volunteer di rumah baca karena dihantui masalah itu. Ntar dicap "volunteer mulu, kok nggak cari kerja?"
    Blum ayah bilang, "kau itu jadilah dosen dulu, sukses dulu baru volunteer. Kalau ga gitu nanti kau takkan dianggap sama masyarakat di sana…"
    Dheng…dan mmg pas bbrapa kali main ke sana, takkuat aku lihat kelakuan anak2 kampung di sana sama teman2ku yg masih istiqomah ngajar di sana (anak2 itu benar2 kurang azar)
    Jadi akhirnya cuma bbrapa kali nyumbang buku aja. Tk pernah mau terlibat scara lngsung. Ah… *jedukan kepala, nih mindset hrus diubah. kalau ga gitu terhantui terus sama yg namanya "ilmu nggak bermanfaat" T^T
    thanks bro artikelnya hew

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s