Apakah Seperti Ini Perpustakaan di Masa Depan?

Kira-kira seperti apa sih Perpustakaan di masa depan? Kebetulan saya mendapatkan sebuah artikel berbahasa Inggris  yang cukup menarik dan telah saya translate untuk anda baca tentang bagaimana Matthew Fisher mengasumsikan Perpustakaan di masa depan menurut pengalaman pribadinya.

Matthew Fisher, asisten profesor bahasa Inggris di UCLA, Menilai bahwa perpustakaan di seluruh dunia telah melakukan digitalisasi koleksi mereka. Tetapi dia merasa frustrasi karena kesulitan menemukan apa yang ia cari, khususnya untuk koleksi manuskrip abad pertengahan. Mesin pencari Google untuk kata kunci “Confessor Edward” mungkin memunculkan 20 halaman hasil pencarian manuskrip, hasil pencarian ialah yang tertua sejarah raja Anglo-Norman muncul, Tetapi bukan di Perpustakaan, melainkan di Cambridge University website, dan mereka telah mempublikasikannya secara online.

Universitas Cambridge sengaja menyewa ahli SEO untuk menempatkan posisi yang baik pada hasil pencarian, KEmudian Fisher memutuskan untuk mengumpulkan link ke karya-karya sendiri dan ia luncurkan akhir tahun lalu dengan judul The Catalogue of Digitized Medieval Manuscriptsyang memiliki hampir 1.000 naskah, termasuk “Topographia Hibernia,” yang memiliki gaya abad 12 sampai 13. Di katalog ini tersebdia Link “Medieval Catalog” naskah ke naskah oleh 193 penulis dalam 20 bahasa yang dikumpulkan oleh 59 perpustakaan dan menggambarkan bagaimana mereka mengumpulkan informasi tersebut.

Dari ratusan naskah, UCLA memiliki 48. Yang berarti bahwa katalog online sangat memperluas koleksi mereka. Jika dapat diambil kesimpulan, “Apakah ini perpustakaan masa depan?” Yang berbentuk sebuah jaringan yang didistribusikan dari koleksi perpustakaan terestrial, dikuratori oleh spesialis?

Kedengarannya bagus, tapi model koleksi yang tidak dapat digitalkan menjadi masalah. Seperti misalnya buku-buku yang rentan disalahgunakan oleh pengguna karena tersandung copyright, karena koleksi yang diberikan begitu saja di Internet membutuhkan proteksi yang cukup kuat untuk mencegah kebocoran sehingga akan mengancam industri publikasi buku. Sedangkan Perpustakaan digital menyebarkan informasi melalui dunia maya yang dapat diakses dari mana saja. Apa mungkin Perpustakaan digital hanya berlaku untuk koleksi-koleksi terdahulu yang tidak tersangkut masalah Copyright?

Kita dapat mengambil contoh Perpustakaan besar digital terpusat seperti Europeana. Perpustakaan digital ini diluncurkan pada bulan November 2008 dengan 2 juta koleksi digital dari 1.000 perpustakaan dan museum di seluruh Eropa. Dan ketika mendapat 10 juta hits per jam server yang menjadi tulang punggung website tidak dapat menampung traffic sehingga menyebabkan “Server Down”. Dari sini kita bisa simpulkan bahwa sentralisasi sangatlah baik, tetapi perlu infrastruktur yang sangat substansial.

An article by Carolyn Kellogg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s