Mahasiswa JIP Mau Magang? Ada Baiknya Baca ini Terlebih Dahulu

Pada suatu hari di grup Imasip UI (Ikatan Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UI) di Facebook, ada sebuah wallpost mengenai tawaran magang di perusahaan multi nasional yang sedang mencari mahasiswa tingkat akhir untuk bekerja di tempat kearsipan. Ya untuk mahasiswa kurang modal seperti saya, mata langsung terbelalak dan pengen iseng coba-coba daftar. Berharap siapa tahu bisa jadi pegawai tetap di perusahaan minyal multinasional yang super besar itu.

Tiba-tiba ada sebuah komentar dari alumni yang punya pengalaman pahit yang buat saya berfikir 2 kali untuk mengambil kesempatan itu. Begini ceritanya *kismis mode: on*:

Sharing pengalaman boleh ya… ๐Ÿ˜€
Sekitar 5 tahun lalu pernah ada program serupa dari oil company juga (perusahaan dirahasiakan). Dan pastinya banyak anak-anak JIP yang berminat dan daftar dengan berbagai alasan; mau cari pengalaman kerja, buat menuhin CV atau ngincer kompensasi yg “diprediksi” nominalnya pasti sekeren merk perusahaannya.

Cerita singkatnya setelah beberapa tahapan tes. Terpilihlah 4 org anak JIP untuk maju ke tahap berikutnya yaitu Interview oleh pihak HRD.

Wawancara 1 per satu dimulai… Kandidat 1 masuk, +-45 menit kemudian dia keluar lagi sambil senyum dan bilang ke kandidat yang lain kalau dia nggak jadi ambil kesempatan magang ini. Setelah mendoakan supaya satu di antara kita ada yg cocok dan bisa magang di perusahaan ini, kemudian dia pergi…

Heran, bingung dan seneng semua jadi satu, karena “saingan” berkurang, kandidat yang lain tetep sabar nunggu giliran interview.
Nggak berapa lama kandidat ke-2 dipanggil. Idem, +- 45 menitan dia masuk, kemudian keluar lagi sambil bilang kalau dia nggak minat nerusin proses magang tanpa alasan yang jelas ke kandidat yang tersisa. Awalnnya saya dan 1 kandidat lainnya sempet bingung, kok bisa ya.. padahal tinggal selangkah lagi kerja di perusahaan bonafit tapi mereka malah nolak. Tapi kita pikir mereka pasti punya pertimbangan sendiri kenapa nolak magang disini.

Entah karena durasinya yang pendek (1 bln) atau alasan pribadi lainnya. Kita sempet bingung, tp nggak mau ambil pusing dan tetep terusin hingga nama kita dipanggil interview.

Vas bunga dan rak buku jadi temen kita berdua di ruang tunggu. Liat-liat bunga, baca-baca majalah sambil nunggu panggilan berikutnya. Sampai akhirnya panggilan interview untuk kandidat ke-3 datang dan temen saya masuk ke ruang HRD.

Roman-romannya nih kandidat ke-3 bakalan nolak juga, tebak saya dalam hati. Daaaan benar….! Tebakan saya nggak meleset, dia keluar sembari ngucapin hal yg sama seperti 2 kandidat sebelumnya, “Gw nggak mau ambil magang di sini Kim!”.
Nah loh ada apa ini!?

Obrolan saya sama kandidat ke-3 berlangsung beberapa menit. Kita ngobrol sebentar seputar interiew tadi, sampai akhirnya dia bilang dia mau pulang dan mendoakan semoga saya bisa tetep lanjut dan magang diperusahaan ini… amin (dalam hati).

Nah, giliran saya pun tiba…. nama saya dipanggil sebagai kandidat ke-4. Saya masuk ke ruangan dan langsung dipersilahkan duduk dengan ramah oleh Ibu XXX. Dengan wajah putus asa dia langsung nanya ke saya, “Mas nggak mau ngundurin juga kan?” Saya yang masih bingung dgn sikap temen-temen, malah semakin bingung dgn pertanyaan dadakan dari si ibu. Lalu saya tanya balik, “Memang ada apa dgn kandidat-kandidat yang lain Bu?”.

Ibu itu lalu cerita panjang lebar… dan saya coba menarik kesimpulan kenapa kandidat lain pada ngundurin diri:

1. Perusahaan itu minta kita harus kerja fulltime seperti pegawai tetap di perusahaan tersebut, 5 hari seminggu.
(Awalnya saya berharap ada toleransi mengingat mereka menawarkan kesempatan ini pd mahasiswa, meski mahasiswa semester akhir tetep ada beberapa kuliah yang harus diikutin dan perlu ngurus ini.. itu… ke kampus)

2. Masuk jam 7 pagi dan pulang jam 5 sore.
(Saya pikir jam kerja tersebut terlalu berlebihan mengingat status kerja kandidat hanya “magang”, dan juga karena setau saya karyawan di sana juga tidak masuk jam 7 pagi, mereka masuk lebih siang. Positif thinking aja, mngkin perusahaan bakal kasih kompensasi lebih karena kalau denger pnglaman dari beberapa alumni / teman yang kerja di oil company, gaji mereka bisa dibilang “sangat lumayan” jika dibanding temen-temen lainnya yang tidak bekerja di perusahaan sejenis.

3. Single Fighter
Sebenarnya bukan masalah besar. Toh anak-anak JIP sudah biasa kerja sendiri dan hasilnya juga bagus. tetapi sebagai gambaran peserta magang di perusahaan ini nantinya bekerja sendiri di dalam sebuah ruangan selebar “gang senggol” dengan lemari-lemari setinggi 2 x ukuran tinggi badan orang dewasa, serta mendata semua dokumen yang ada di dalam lemari-lemari tersebut (berbagai macam jenis koleksi; buku, video, foto, dll mulai dari perusahaan berdiri hingga tahun 2007) serta membuat sistem pencatatan manual.

4. Alasan terakhir yg saya pikir menjadi alasan utama mundurnya 3 rekan saya. Sebuah alasan yg bisa mengalahkan keinginan seseorang untuk mendapatkan “network” dan “pengalaman kerja”… yaitu kompensasi!ย Ketika Ibu S menyebutkan kompensasi yang perusahaan sediakan dan saya bandingkan dengan beban kerja dan persyaratan yang mereka berikan ke calon peserta magang, saya cuma bisa mesem-mesem sambil berbisik dalam hati…. “ohhh segitu… pantesan aja nggak ada yang mau”
(nominal yang saya perkirakan bakal habis untuk isi bensin, bayar parkir, ganti uang makan, dan beli pulsa selama 1 bulan) ๐Ÿ˜€

Kesimpulan:
Bahkan perusahaan skala multinasional sekalipun kadang masih ada yang berlaku tidak adil dengan memberikan kompensasi yang tidak sesuai dengan beban kerjanya.
(curcol tengah malam…;p )

Memang nggak selamanya selalu buruk, tapi dari pengalaman senior, ada beberapa yang bisa diambil sebagai pelajaran disana. Andai saja kita tahu berapa kompensasi dan tanggung jawab ketika magang (transparansi honor dan tanggung jawab saat rekrutmen) tentunya kita tidak usah repot-repot mendaftar dan melalui seleksi yang cukup ketat itu.

Semoga bermanfaat ๐Ÿ™‚

Advertisements

5 thoughts on “Mahasiswa JIP Mau Magang? Ada Baiknya Baca ini Terlebih Dahulu

  1. Agung Andika

    Tawaran magang bagi Mahasiswa Tingkat Akhir (MTA), apapun namanya. Kadang dimanfaatkan oleh sebagian perusahaan untuk mendapatkan tenaga kerja dengan bayaran murah. Bersyukur artikel ini dipublikasikan, mengingat masih sedikit orang yang belum paham dan berpikiran yang penting saya magang, kerja, berduit, tapi kurang memperhatikan feedback bagi dia.

    Artikel yang bagus. Izin re-blog / share ya….

    Reply
    1. Kemala Widya Paramita

      Saya alumni JIP dan dulu juga dari jurusan IPA.. kayanya kalo melalui SPMB (SBMPTN,- red) syaratnya cuma ambil IPC/ IPS trus pilih kode jurusan Ilmu Perpustakaan 224944. kalo saran lainnya saya ga bisa jawab karna GAP generasi yg jauh banget jadi udah ga relevan jawabannya..hehehe ๐Ÿ˜€

      Reply
  2. Kemala Widya Paramita

    *cuma bisa senyum* emang ada bener juga sih cerita soal artikel ini.. tapi yah, bergantung pilihan dan rezeki orang lah ya untuk urusan magang dan kehidupan setelah magang-nya.. hihihi..
    nice post, anyway! ๐Ÿ™‚

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s