Rekam Jejak Fauzi Bowo dan Perpustakaan DKI Jakarta

PDS HB Jassin

Perpustakaan tidak bisa dipisahkan dari tata kota, apalagi sebuh kota besar yang menyandang Daerah Khusus Ibu Kota. Seharusnya Perpustakaan di Ibukota merupakan percontohan dari seluruh perpustakaan yang ada di Indonesia. Bukan ingin menjelek-jelekan salah satu kandidat cawagub, tapi saya ingin memutar kembali jejak rekam Perpustakaan di Indonesia selama masa gubernur 2007-2012.

Masih teringat lekat di kepala, Februari 2011 Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengeluarkan SK Gubernur yang menyatakan bahwa Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin  hanya mendapatkan anggaran sebesar Rp. 50 juta pertahun. Artinya terjadi pemangkasan besar-besaran terhadap Perpustakaan yang menjadi tempat pemeliharaan karya sastra yang tak ternilai harganya. Wajar jika sastrawan dan Ilmuwan Indonesia geram dengan kebijakan tersebut.

Dengan anggaran yang sangat kecil, tentunya PDS HB Jassin akan terancam tutup. Toh angka 50 juta sangat mustahil untuk mencukupi biaya gaji pegawai, perawatan dan hal-hal lainnya yang mendukung keberlangsungan PDS HB Jassin selama satu tahun.

Dalam tulisannya di Kompasiana, penulis dan pemerhati sastra Linda Djalil menulis, “Uang memang bukan segalanya. Namun, bila upaya penyelamatan mahakarya Sastra Indonesia yang puluhan ribu jenis itu tidak memperoleh sokongan keuangan yang pantas, tentu ini membuat hati perih dan bangsa ini terasa diremehkan. SK (Surat Keputusan) Gubernur DKI Jakarta No. SK IV 215 tertanggal 16 Februari 2011, yang ditandatangani langsung oleh Fauzi Bowo menyatakan jelas-jelas bahwa PDS HB Jassin hanya memperoleh anggaran Rp 50 juta setahun.”

Untungnya masyarakat yang terdiri dari seniman, sastrawan, akademisi hingga dari luar daerah tergerak untuk membuat gerakan Koin Sastra demi menyelamatkan PDS HB Jassin. Ya, jika tidak karena mereka dan perjuangannya dahulu, mungkin saat ini PDS HB Jassin hanya tinggal kenangan.

Masih seputar Perpustakaan dan ini juga menjadi rapor merah bagaimana Gubernur DKI Jakarta tidak menunjukan kepeduliannya terhadap Perpustakaan. Agustus 2009 gedung Perpustakaan Jakarta Barat terancam roboh akibat kurangnya dana perbaikan dari Pemda DKI Jakarta. Bahkan menurut Pak Sukirno, kepala Perpustakaan dan arsip Jakarta Barat, ia hampir menutup gedung Perpustakaan karena lantaran takut ambruk dan melukai pembaca setia yang berkunjung. Namun niat ini ia batalkan karena antusiasme pengunjung  yang sangat tinggi memaksa mereka tetap membuka gedung Perpustakaan.

Bagaimana bisa sebuah tempat publik seperti Perpustakaan yang menjadi hak dari warga Jakarta tidak diperhatikan sehingga dapat membahayakan pengunjungnya? Ini merupakan hal yang sangat lucu mengingat APBD DKI Jakarta yang berjumlah puluhan triliun, tapi untuk fasilitas masyarakat justru tidak diperhatikan dan mengancam jiwa penggunanya.

Gedung Perpustakan Umum Daerah Jakarta Selatan di Gandaria

Dari kedua kasus Perpustakaan Jakarta Barat dan PDS HB Jassin bisa dilihat bagaimana Pemda DKI dibawah kepemimpinan gubernur saat ini justru mengalami kemunduran di ranah perpustakaan. Atau anda bisa lihat sendiri bagaimana kondisi perpustakaan daerah dekat rumah anda. Di dekat rumah saya, Perpustakaan Umum Daerah Jakarta Selatan yang terletak di Gandaria juga bernasib sama,  ketika hujan turun, atap perpustakaan Jaksel mengalami kebocoran disana-sini. Bahkan dari luar jika kita melihat kondisi fisik gedung seperti gedung kosong yang tidak terawat.

Hal ini tidak sejalan dengan perkataan Fauzi Bowo yang menyatakan bahwa dirinya akan terus berada di garis depan dalam meningkatkan minat baca warga Jakarta. Kenyataannya? Nihil! Justru dengan kebijakannya malah mematikan Perpustakaan yang menjadi tempat pencerdasan warga Jakarta.

Mohon maaf jika hal ini menyinggung anda simpatisan Pilkada DKI salah satu calon karena kebetulan saya menulis ini bertetapan dengan Pilkada DKI.  Siapapun kelak pemimpin Jakarta, saya sangat berharap ia sangat peduli akan dunia Perpustakaan dan pengembangan minat baca masyarakat.

Advertisements

7 thoughts on “Rekam Jejak Fauzi Bowo dan Perpustakaan DKI Jakarta

  1. Lala

    Mas,foto gedung perpustakaan jaksel nya itu tahun brp yah?aku suka kesanaa,bentukan gedungnya ga kaya gitu soalnyaa :))

    Reply
  2. Michelle

    Syukur deh sekarang KPAK (kantor perpustakaan dan arsip) Jakbar sudah jd kantor yang paling baik dibanding 5wilayah lain termasuk jakarta kepulauan seribu 🙂 untuk info saja, orang perpustakaannya juga tidak begitu bersahabat dan bisa di bilang tdk melakukan tugasnya dengan baik. Mungkin karna gaji kurang kali ya? Tapi menurut saya, kalau mrk melakukan tugas dengan baik dan benar2 mampu meningkatkan minat baca di wilayahnya, pasti pemerintah akan memberi perhatian lebih. Trims 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s