Media tulis masa lalu, kini dan masa depan

iPad media tulis masa depan

Pernah nonton film karun “The Flinstones”? pasti pernah dong ya, ketika manusia hidup di zaman batu mereka menggunakan semua perabot yang terbuat dari batu termasuk media tulis mereka. Akhirnya pada beberapa zaman kemudian batu mulai tergantikan dengan kulit binatang, papyrus dan bahan lainnya sebagai media tulis hingga akhirnya China menemukan kertas sebagai bahan media tulis yang kita pakai sampai sekarang. Nah, gambar diatas yang dicantumkan itu sekedar tulisan tangan seseorang pada layar iPad sebagai media tulisnya. Namun tidak hanya sebagai media tulis untuk catatan-catatan saja. Amazon.com telah merilis amazon kindle sebagai media membaca buku dengan contrast layar yang menyejukan mata sehingga rasanya seperti membava buku yang sebenarnya. Dipikir-pikir lagi bisa nggak ya iPad dan papan tablet touchscreen lainnya bisa menggantikan kertas sebagai media tulis? coba kita lihat beberapa alasan yang bisa menjadikan iPad dan kawan-kawan menggantikan kertas

1. Bahan baku kertas
Maraknya isu global warming saat ini memaksa semua elemen masyarakat untuk berhemat dalam memakai kertas. Salah satunya dengan menggunakan kertas bolak-balik, daur ulang kertas dan menghemat ukuran tulisan dalam catatan. Tapi perlu diakui bahwa penggunaan kertas dunia setiap tahunnya selalu meningkat. Akibatnya banyak sekali industri kertas yang tumbuh subur dan yang paling berbahaya adalah pengunaan pohon sebagai bahan baku utama bubur kertas (pulp). Untuk hutan industri memang terlihat tidak masalah, tapi buat saya cukup masalah karena untuk menanam pohon dibutuhkan waktu yang sangat lama sekali agar bisa tumbuh besar dan siap ditebang dan ketika ditebang maka harus menunggu waktu yang lama lagi untuk menunggu pohon muda menjadi dewasa. Belum lagi pemotongan kayu ilegal yang masih marak di Hutan kalimantan.

Nggak usah jauh-jauh dulu deh. Sekarang coba saja tumpuk semua buku yang kalian punya dirumah, tumpuk catatan-catan keras yang pernah kalian punya dan lihat berapa besar? kalau saya mungkin semua koleksi buku dan catatan-catatan yang saya punya bisa setinggi pohon dewasa yang artinya dalam hidup kita telah menghabiskan satu pohon dewasa bahkan lebih untuk kebutuhan akan buku dan media tulis. Bayangkan kalau anggota keluargamu juga begitu? teman-teman jurusanmu, teman-teman fakultasmu dan teman-teman kampusmu memiliki konsumsi kertas yang sama maka saya yakin satu jurusan di UI saja bisa membuat hutan UI gundul seperti kepala saya saat ini 😀

2. e-book Reader
Amazon KindleSaat ini dunia sudah terhubung satu sama lain dengan kabel fiber optik yang membentang di seluruh dunia agar kita semua bisa menikmati layanan internet. Musics, videos, gambar semua bisa kita download dengan mudah dengan internet. Begitu juga dengan buku. Penjualan buku di Amazon.com menunjukan bahwa pembelian buku online (e-book) semakin hari semakin meningkat, bahkan di akhir tahun ini peningkatannya sangat tajam dibandingkan dengan tahun lalu. Kemudahan mengakses buku digital ini dipengaruhi oleh teknologi mutakhir yang bernama E-book reader. Seperti Amazon Kindle dan Sony e-book reader mereka memiliki akses internet tanpa kabel untuk membeli buku secara online. Kalau pertanyaan beberapa orang-orang awam yang belum pernah memegang dan melihat benda ini pasti akan berkata “Lebih enak membaca buku dibanding lewat format digital”. Tapi ketika memegang e-book reader rasanya beda loh, Kalau pada Laptop kita temukan LCD screen berwarna. Pada e-book reader kita akan menemukan e-ink screen yang tidak berwarna. Karena teknologi e-ink ini tidak memerlukan banyak cahaya untuk menampilkan gambar dengan jelas. Sehingga dibaca berjam-jam juga tidak akan membuat mata kita lelah seperti menatap layar laptop. Namun sayangnya layar e-ink belum berwarna.

Belakangan ini kita baru saja dapat kabar kan bahwa salah satu toko musik Aquarius di tutup karena maraknya pembajakan melalui kabel. Bisa jadi suatu hari nanti ketika manusia sudah lebih modern, toko-toko buku akan tutup karena tidak bisa bersaing dengan toko buku online yang langsung mengirim filenya langsung ke e-book reader kita. Lets wait and see. Permadi said to me “book will not subtitute by e-book until 2020” . Jadi tunggu saja era buku akan berakhir dan terganti oleh media digital. Tapi kita sudah siap belum untuk mengelola perpustakaan digital? 😀

3. Catatan lagi catatan lagi, cape deh…

Catatan bertumpuk –>  Catetan iPad

Masih pake catatan kertas? Sekarang sih masih, tapi kalau 2020 masih pakai kertas kasihan deh :D. Lihat gambar atas, setumpuk catatan kuliah kita ternyata jauh lebih tebal, besar dan berat daripada sebuah iPad. Cuocok buanget ini buat mahasiswa bertipe-tipe Ku-tat (kuliat catet), beda ya sama gue yang Ku-pi (kuliah foto copi catetan temen) :D. Di masa depan nanti setelah maraknya komputer tipe pad (papan gilesan) nanti akan mengantikan buku tulis kita yang biasa kita pakai di sekolah. iPad yang baru diluncurin tahun ini saja sudah memiliki banyak pesaing yang nggak kalah okay seperti Samsung Galaxy Pad, Blackberry PlayBook, Android Pad dan lain lain. Bayangkan 10 tahun nanti akan ada berapa banyak produk komputer papan gilesan yang ada di pasaran?

Caranya sangat mudah, bisa memakai pulpen stylus, atau jari kita sendiri untuk menulis apa yang ingin kita tulis dengan cepat. seperti layaknya menulis dibuku. Ketika halaman penuh kita bisa membalik ke halaman berikutnya. Keuntungan lainnya kita nggak perlu takut kalau catetan kita sobek, kotor atau terlipat. Yang ada paling cuma layar pecah, batere bocor dan masalah teknis komputer lainnya. jeleknya lagi, kalau buku catatan kita hilang di jalan biasanya ada orang yang memungut dan mengembalikan kepada anda. Kalau iPad kita hilang di jalan pasti bakal ada orang yang memungut juga, tapi kalau berharap dikembalikan hmm…. gimana ya? 😀

Sebelum diselesaikan, saya ingin nambahin juga kalau tipe mahasiswa ku-pi juga bisa memfotocopy catetan dari iPad temen dengan teknologi canggih bernama bluetooth dan Wi-fi 😀

Nah, sekarang kembali kepada kita? Apakah kita bisa merubah gaya hidup tanpa kertas? tentunya tidak akan semuanya berubah, Kita masih butuh catatan kertas dan buku kertas sebagai penyebar informasi untuk kebutuhan yang tidak bisa digantikan dengan digital seperti brosur, surat berharga hingga contekan :D. Semua itu tidak akan bisa terganti begitu saja. Tetapi ketika zaman sudah berubah kita harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.

Jadi, setelah batu, perkamen, papyrus dan kertas. Akankah format digital menjadi media tulis di masa depan? Jawaban saya : Ya! 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Media tulis masa lalu, kini dan masa depan

  1. nadia khaerani

    kalo menurut salah satu teorinya pak Sulistyo Basuki, buku gk ada matinya karena bisa ditanda2in.
    apa 10 tahun kedepan teori ini gk berguna lagi yah? 😀

    Reply
    1. Hanif Ridwan Post author

      justru nantinya perangkat pembaca buku elektronik juga akan semakin canggih mengikuti kebutuhan manusia. toh nantinya siapa tau buku2 elektronik bisa ditandain dan dilipet 😀
      who knows?

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s