Category Archives: Tokoh Perpustakaan

Download DDC 22 Elektronik (e-DDC 22) versi Bahasa Indonesia

DDC 22 download electronic, elektronik DDC 22 gratis

Sebenarnya e-DDC ini sudah diluncurkan tahun lalu, namun ilmuperpus.wordpress.com ketinggalan berita dan baru bisa posting berita ini sekarang… hehehehe. nah, kalau kalian sudah pernah mendownload e-DDC edisi 21 buatan mas Rotmiyanto. Kali ini mas Rotmianto telah mengeluarkan e-DDC 22 dengan beberapa kelebihan yang disempurnakan dari e-DDC edisi sebelumnya.

Simak langsung artikelnya!

Continue reading


Ironi Perpustakaan HB Jasin TIM

Perpustakaan HB Jassin

JAKARTA, KOMPAS.com — Gonjang-ganjing mengenai Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin terus menggelinding. Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta yang menetapkan pusat dokumentasi sastra Indonesia terbesar di seluruh dunia hanya mendapat anggaran Rp 50 juta per tahun telah menuai kegeraman di kalangan sastrawan dan ilmuwan yang peduli dengan warisan literasi yang tak ternilai harganya itu.

Lantaran SK Gubernur DKI Jakarta itulah, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin (PDS HB Jassin) bisa terancam tutup. Mafhumlah, dengan anggaran cuma Rp 50 juta per tahun, itu artinya tak mencukupi untuk membayar pegawai dan perawatan secara memadai.

Continue reading


Download Software Gratis e-DDC (Electronic Dewey Decimal Classification) Versi Bahasa Indonesia

DDC 22 Ilmu perpustakaanPustakawan mana sih yang nggak kenal DDC? Kali ini telah hadir Software DDC berbahasa Indonesia buatan pustakawan muda dari Jawa Timur bernama Rotmianto Muhammad. Tapi sayangya versi DDC ini belum berbasis DDC edisi 2 (masih DDC 21). Nantinya berdasarkan comment dari blog beliau ia akan segera mengupdate ke versi DDC edisi 22.  Berikut penjelasannya  tentang e-DDC yang saya copy paste langsung dari website mas Rotmianto Muhammad

Setelah berkontlemplasi sampai-sampai kurang tidur dan lupa makan selama lebih dari 3 bulan (hehehe…) Alhamdulillah, software e-DDC ini akhirnya dapat saya rampungkan. Pada intinya software ini adalah untuk membantu pustakawan atau petugas perpustakaan untuk menentukan nomor klasifikasi secara lebih mudah dari pada menggunakan sistem yang manual (memakai buku pedoman klasifikasi DDC yang versi aslinya tebalnya minta ampun itu). Pada mulanya saya akan menggunakan bahasa pemrograman PHP atau Java untuk membuatnya, tapi belakangan saya memilih HTML compiler dengan pertimbangan bahwa HTML compiler lebih ringan dan fleksibel digunakan bahkan di komputer sekelas Pentium II sekalipun.
Software ini – tentu saja free alias gratissss… Bisa Anda download di link ini yang tersedia di bagian akhir tulisan ini. Software ini mudah instlasainya. Cara instalasi dapat ditemukan pada file “BACA DULU!!!” dalam folder e-DDC hasil download. Tetapi apabila Anda ingin langsung menginstal, ya boleh-boleh saja. Asal tidak lupa memasukkan password instalasinya. By the way, apa passwordnya? Ya di file “BACA DULU!!!” itu tadi, hehehe… Setelah instalasi, juga terdapat cara untuk mengubah icon e-DDC agar tampilannya lebih menarik. Content/isi e-DDC meliputi semua nomor klasifikasi DDC mulai kelas 000 – 999 beserta tabel-tabel pembantu. Dari pada penasaran, lebih baik segera download dan dipraktekkan sendiri….hehehe…
Berikut ini adalah tampilan home e-DDC:


Fasilitas dalam e-DDC tersebut adalah searching yang mudah dan link-link yang disediakan untuk penelusuran lebih lanjut.
Klik link ini untuk mendownload:

(Keterangan: bagi yang lebih suka mendownload file .zip klik nomor 1, atau kalau suka file .rar silakan klik nomor 2. Isinya sama saja)
Apabila e-DDC sudah terinstal, akan tampak menu default sebagaimana ilustrasi di atas. Seperti pada umumnya halaman web (yang menggunakan format HTML, pen.), maka pada e-DDC akan banyak ditemui link-link/tautan yang menghubungkan antar halaman web dalam software e-DDC tersebut, dengan tujuan untuk memudahkan penggunaan. Cukup klik sana-sini menggunakan mouse, maka dapat menuju halaman mana yang sesuai dengan topik atau bahasan yang Anda inginkan.
Ilustrasi penggunaan menu search/Pencarian e-DDC adalah sebagai berikut:
Hasil pencarian akan muncul dalam hightlight warna biru. Ada kalanya akan muncul beberapa hightlight. cari saja yang paling sesuai dengan yang dibutuhkan. Asyik kan? Dari pada terus-terusan membuka-buka buku Sistem Klasifikasi DDC kalau lagi mengerjakan tugas klasifikasi, mending pakai e-DDC…


Sedangkan ini adalah menu Content yang memuat semua nomor klasifikasi DDC dari 000 – 999 beserta tabel-tabel yang dibutuhkan.


Menu Content e-DDC Insya Allah cukup lengkap. Namun kalau ada nomor yang terlewat, tolong kasih tahu saya melalui kolom komentar di bawah ini. Begitu pula kalau ada masukan atau saran-saran lainnya.

Silahkan di download, jika ada yang kurang bisa langsung diinformasikan kepada website mas Robianto Muhammad


Prospek Kerja Lulusan S1 Ilmu Perpustakaan

prospek kerja

udah hampir seminggu lebih lupa nggak ngisi blog ini gara-gara sibuk ngurusin aliran sesat yang berkembang di alumni sekolah gua (sok-sok-an banget sih :D ), kangen rasanya pengen nulis lagi.

Kemarin hari Jum’at ada mahasiswa baru yang nyapa saya lewat pop-chat facebook. Dia nanya “apa sih prospek lulusan ilmu perpus?” sambil promosi gua bilang aja “coba buka ilmuperpus.wordpress.com”. hahaha…. Berhubung gua udah janji kalau buka blog ini dia akan menemukan jawabannya makanya gua tulis prospek kerja lulusan ilmu perpus.

Curhat dikit ya, sebetulnya dulu gua juga meremehkan jurusan ini waktu gua SMA gara-gara suka bercanda sama temen sebangku gua. Tapi ternyata waktu bedah kampus Universitas Indonesia gua cukup tertarik sama nih jurusan. Gua dulu pengennya masuk ke jurusan yang berhubungan dengan komputer. Entah itu Ilmu Komputer, Sistem Informasi dan lain lain. Berhubung gua waktu SMA emang nggak banyak belajar perihal sibuk ngurusin hal-hal yang nggak ada hubungannya sama akademik. Maka pilihan untuk jurusan yang pasing gradenya nggak tinggi tapi nggak malu-maluin amat ya cuma ilmu perpustakaan. FYI waktu gua masuk ilmu perpustakaan itu di peringkat ke 20 untuk rumpun IPS di UI dari 30 jurusan.Cuma yaitu terpaksa harus belajar IPS karena waktu SMA jurusan saya IPA.

Mata kuliah di jurusan ini juga nggak monoton tentang perpustakaan aja. Yang menarik karena ada komputer-komputernya kita akan belajar tentang Database, Teknologi media grafis, Jaringan Informasi Digital, Manajemen Digital Library dan lain lain. Ya kalau kita nggak jadi pustakawan paling kita bisa jadi orang yang cukup berkompeten sama yang berbau komputer. Gue juga suka sama manajemen. disini juga ada mata kuliah yang mirip-mirip sama manajemen seperti mata kuliah yang udah pernah diikuti sebelumnya yang berjudul “Administrasi Lembaga Informasi” mata kuliah itu kental bagnet nuansa manajemennya. Kita belajar mulai dari memahami karyawan, ruang kerja yang efektif hingga tentang pengelolaan sebuah lembaga dengan teori-teori dari barat dan asia. Mata kuliah selanjutnya yang belum pernah gua telen yang berbau manajemen diataranya ada Manajemen Perpustakaan Pendidikan, Manajemen Perpustakaan Komunitas dan Manajemen Gedung dan Peralatan Lembaga Informasi. Jadi kueliah di perpustakaan nggak melulu tentang buku. Belum lagi seiring jalannya perkembangan teknologi yang semakin berkembang, mata kuliah yang berbau teknologi biasanya ditambah terus tiap tahunnya. Belum lagi kita dapat mata kuliah bahasa inggris sampai bahasa inggris professional. Makin asik tuh kayaknya.

Dari mata kuliah yang udah disebutin tadi pasti akan mengarahke prospek kerja kita nantinya. Dari mata kuliah yang berbau komputer dan database tentunya nanti kita bisa menjadi orang yang cukup mumpuni menjadi pengelola database atau databse maker. Sekarang perusahaan besar mana yang tidak butuh seorang ahli database. Bahkan seorang pencipta database saja tidak cukup karena di mata kuliah lainnya kita belajar tentang manajemen koleksi yang akan berhubungan dengan kemudahan temu balik dokumen dalam deskripsi. Ini yang membuat kita mempunyai nilai plus dari sarjana ilmu komputer. Jadi mata kuliah dasar-dasra organisasi informasi (DOI) dan kosa kata indeks itu gunanya banyak sekali dalam mempersempit pencarian database. Selain itu kita bisa menjadi website designer hingga manajer, secara kita belajar manajemen juga kan? :P

Soal menyoal pustakawan yang konon katanya banyak dicari emang bener. Apalagi jika perusahaan sudah go public mereka harus mempunyai tatanan dokumen yang lengkap dan rapi untuk temu kembali juga dalam masalah kearsipan. Bayangkan jika sebuah dokumen saham salah letak, berabe deh. Ada juga yang bekerja sebagai penata dokumentasi, pencari informasi (ahli informasi), arsiparis, ahli manajemen digital, dan kalau kita berprestasi biasanya kita disekolahin lagi untuk S-2 Ilmu Perpustakaan.

Makanya lulusan ilmu perpus nggak melulu di perpustakaan tetapi hampir seluruh lembaga pemerintah dan swasta, kedubes-kedubes asing. Di samping itu, masih sangat banyak perpustakaan yang jumlahnya ribuan, baik perpustakaan perguruan tinggi, maupun sekolah-sekolah, perpusakaan umum maupun khusus, yang belum mempunyai karyawan berpendidikan formal tingkat sarjana dalam bidang perpustakaan dan informasi.

Itu mungkin prospek seorang sarjana perpustakaan yang bisa gua jelasin untuk sementara. Memang nggak sedikit seorang sarjana perpustakaan yang berpindah haluan dari menjadi seorang pustakawan. Tapi di luar negeri semua orang berbondong-bondong menjadi pustakawan dan dianggap hebar. Karena pustakawan itu adalah pekerjaan yang lebih mulia dari dokter dan guru. Jika seorang dokter mengobati orang sakit. Kita lah yang menyediakan mereka informasi bagaimana menyembuhkan orang sakit. Jika guru mengajari muridnya. Kitalah yang menjadi penjaga sumber ilmu guru tersebut. Dan enaknya lagi selagi kita bekerja kita bisa sambil belajar karena ilmu dari konten isi perpustakaan beragam dan bermacam-macam. Makanya tidak ada ruginya menjadi pustakawan.

Kalau kalian masih ragu dengan jurusan ini, carilah fresh graduate ilmu perpustakaan UI yang nganggur dalam waktu lebih dari setahun. Jarang banget loh! kecuali emang IPKnya benar-benar begitu deh… hehehe


Pustakawan PNS Dapat Tunjangan Kelangkaan Profesi Loh!!

Librarian

Seperti biasa, sebagai calon sarjana pustakawan pasti paling asik kalau bwosing-browsing informasi di internet mengenai Perpustakaan. Kali ini saya menemukan sebuah info yang cukup menarik untuk dibaca dari website Dunia Perpustakaan tentang tunjangan kelangkaan profesi pada sarjanan pustakawan yang bekerja di daerah.

Secara kasar kondisi tenaga perpustakaan di daerah sesuai dengan artikel yang sebelumnya bisa diambil benang merah bahwa perpustakaan daerah sangat kekurangan tenaga ahli perpustakaan. Maka pekerja di perpustakaan daerah yang tergolong pegawai negeri sipil (PNS) umumnya adalah PNS yang tidak memiliki latar belakang perpustakaan dan ditempatkan di perpustakaan dengan 6 kemungkinan. yaitu :

  1. Pegawai yang bermasalah
  2. Pegawai yang tidak berprestasi
  3. Pegawai buangan ( gabungan dari nomor 1 dan 2)
  4. Pegawai yang mengalami sakit berat.
  5. Tempat persinggahan sementara bagi calon pejabat struktural yang akan menaiki singgasana ke eselon yang lebih tinggi.
  6. Pejabat struktural yang akan memasuki masa pensiun

Makanya itu perpustakaan daerah nggak maju-maju karena yang memegang peranan vital perpustakaan bukan orang yang ahli dalam bidangnya udah gitu buangan lagi :D . Naas dah! Tapi katanya fenomena ini sudah biasa dalam struktur kepegawaian pemerintahan. Parahnya lagi pegawai yang bermasalah yang umumnya karena masalah korupsi sengaja ditempatkan di perpustakaan karena perpustakaan adalah zona kering dar lembaga pemerintahan. Oh my God! Udah kering dikorupsi mau jadi apa coba?

Posisi pustakawan ini kurang diminati oleh kebanyakan PNS karena yang pertama Perpustakaan masuk ke dalam zona kering, sehingga konsep tentang pearadigma penghasilan di luar ketentuan perundangan (non budgeter / kebohongan manajemen anggaran) yang akan didapatkan dari institusi tersebut hampir tidak ada. Kedua, image pustakawan adalah PNS yang masuk ke 6 daerah diatas. Intinya kalo lo jadi pustawakan PNS lo adalah PNS-PNS yang punya image jelek :D . Yang terakhir alasan klasik Pustakawan  masih dianggap sebagai profesi tukang jaga buku. Enak aja masa kita disamain sama tukang jaga parkir atau sendal. Melihat kondisi-kondisi di atas jelas saja kalau image dan kondisi perpustakaan di daerah jelek. Sesuai sama yang dikatakan sama dosen saya waktu mengajar Administrasi Lembaga Informasi.

Nah, di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 16 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, pasal 39 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 dicantumkan pada ayat ke-6 berbunyi “Tambahan penghasilan berdasarkan kelangkaan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada pegawai negeri sipil yang dalam mengemban tugas memiliki keterampilan khusus dan langka.” Pustakawan banget nggak sih? Secara kita punya keterampilan khusus dan langka… hehehe

Jadi buat pemuda-pemuda daerah yang menempuh studi ilmu perpustakaan siap-siap aja melamar jadi PNS agar meregenerasi perpustakaan daerah dan menghapus image buruk pustakawan dan perpustakaan. Buat pemuda Sarjana perpustakaan yang tinggal di daerah sepertinya hal profesi PNS ini cukup menggiurkan. Selain hidup kita akan dijamin oleh negara, kita juga dapet tambahan uang saku. Asik bukan?

note : soal menyoal berapa jumlah tunjangannya jangan tanya saya ya :D


Demi Perpustakaan, Eko Cahyono Nekat Menjual Ginjalnya

Demi sebuah perpustakaan, seorang Eko Cahyono yang tidak memiliki pendidikan tinggi sangat peduli terhadap perpustakaan yang ia buat. Sebagai mahasiswa Ilmu Perpustakaan saya malu jika dibandingkan dengan beliau. Semangatnya yang tinggi untuk memberikan fasilitas pendidikan membaca kepada anak-anak putus sekolah di Malang harus kita contoh.

Berikut adalah sedikit profil dari Eko Cahyono dan perpustakaannya dariKick Andy

Berawal dari hobi membaca tabloid-tabloid dan merasa sayang untuk meloakkan sekitar 400-an koleksinya, Eko mulai meminjamkannya kepada masyarakat. Eko mempunyai tekad untuk memajukan pendidikan bagi anak –anak dan remaja putus sekolah.

Untuk mendapatkan tambahan koleksi, ia mencari sumbangan buku-buku dari rumah ke rumah. Sampai saat ini sudah sekitar 1.246 pintu rumah ia ketuk. Karena koleksi bukunya terus bertambah, Eko akhirnya mendapat teguran dan tentangan dari keluarganya sehingga ia akhirnya rela diusir dari rumah.

Eko akhirnya mulai mengontrak tempat untuk menampung buku-buku yang makin lama makin banyak. Perpustakaan yang didirikannya sejak tahun 1998 ini sampai sekarang sudah pindah kontrakan sebanyak 9 kali dalam kurun waktu 11 tahun. Tempat yang sekarang ditempatinya berupa bubuk bambu berukuran 6 kali 9 meter yang terletak di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Di tempat inilah sekarang Eko tinggal dan mengelola perpustakaan kampungnya.

Menurut Eko anggota perpustakaannya sudah mencapai 8000 orang dan koleksinya terdiri dari buku, majalah, tabloid, kamus, ensiklopedia, buku pengetahuan umum, sastra, pelajaran sekolah hingga komik anak-anak. Total seluruhnya sudah mencapai sekitar 15.000. Salah seorang guru mengusulkan agar perpustakaannya diberi nama Perpustakaan Anak Bangsa (PAB). Perpustakaan ini buka 24 jam sehari, senin – minggu dan tidak pernah tutup. PAB melayani hampir semua desa di seluruh Kabupaten Malang karena kebanyakan sekolah kabupaten tidak memiliki perpustakaan sehingga mereka meminjam buku-buku referensi dari PAB.

Perpustakaan Eko Cahyono

Perpustakaan Eko Cahyono

Untuk membiayai operasional perpustakaan dia bekerja apa saja termasuk menjadi penjaga stand. Eko memang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia khawatir jika ia bekerja full time maka tidak ada yang mengontrol perpustakaannya. Untuk mempertahanakan PAB, sejak 2 tahun lalu Eko sudah bersiap-siap menjual salah satu ginjalnya. Syaratnya, orang yang mau membeli ginjalnya harus mau membangunkan gedung permanen untuk PAB. Pernah ada orang dari Jawa Tengah yang berminat untuk membeli ginjalnya sebesar Rp. 200 juta namun tidak jadi karena orang tersebut akhirnya keburu meninggal.

Eko sudah banyak berkorban untuk perpustakaannya. Ia sudah menjual playstation, radio, HP dan sepeda motor kesayangannya untuk sewa gubug, bayar listrik dan biaya operasional PAB. Ditambahkannya, PAB pernah tertimpa pohon tumbang dan kebanjiran. Namun, tidak sekalipun ada bantuan dari pemerintah kabupaten yang paling hanya datang melakukan kunjungan sesekali.

Motivasi Eko mempertahankan PAB adalah agar anak-anak di kampung yang memiliki banyak waktu luang bisa pintar tanpa harus sekolah. Ia juga ingin membudayakan membaca kepada mereka. Sekarang ini, Eko sedang menghadapi permasalahan yang cukup sulit karena dalam waktu sebulan PAB sudah harus pindah lagi namun ia tidak mempunyai biaya. Menurutnya orang-orang yang datang tidak pernah mau tahu dari mana buku-buku tersebut berasal.

sumber

Subhanallah, Walaupun ia tidak pernah mengenyam bangku sekolah tinggi dan pendidikan perpustakaan, Tapi ia memiliki semangat seorang pustakawan yang sesungguhnya! Semoga perjuangannya akan dimudahkan oleh Allah SWT.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 573 other followers